Cerita Kota

Dari Lintasan Lari, Ditangkap Kamera, Hinggap di Medsos

23 September 2025

297 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Setiap hari, jalur-jalur joging di Pontianak dipenuhi warga. Dari kawasan taman kota, lapangan terbuka, hingga jalan-jalan utama saat Car Free Day, masyarakat menjadikan olahraga sebagai rutinitas sekaligus ajang berkumpul.

Joging bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan juga ruang interaksi sosial. Di sela-sela keringat dan tawa, suasana ini membuka peluang baru bagi hadirnya ekosistem kreatif, salah satunya lewat fotografi.

Fenomena ini yang kemudian dimanfaatkan melalui aplikasi Fotoyu. Aplikasi berbayar ini menjadi wadah bagi fotografer untuk mengunggah hasil jepretan mereka, sekaligus tempat bagi masyarakat yang ingin membeli foto-foto tersebut.

Aktivitas olahraga yang ramai di Pontianak memberi “panggung” alami bagi para fotografer, karena setiap pertemuan selalu menyimpan momen visual yang menarik untuk diabadikan.

Deri, salah satu pengguna Fotoyu dengan akun Derry.df, bercerita bahwa komunitas Fotoyu kini cukup dikenal di Pontianak.

“Meski udah ada beberapa orang yang tahu cara mendapatkannya lewat aplikasi, tetapi justru lebih banyak yang masih perlu kita edukasi,” ujarnya. 

Rutinitas memotret biasa dilakukan saat akhir pekan atau sore hari ketika masyarakat berolahraga. Foto-foto yang dihasilkan kemudian diunggah ke aplikasi, menjadi arsip sekaligus sumber pendapatan.

Hal senada diungkapkan oleh Mas Dhika (Masdhika_photo), fotografer lain yang aktif di Fotoyu. Ia menyebutkan bahwa pergeseran dari dunia fotografi pernikahan ke Fotoyu justru memberikan pengalaman baru yang lebih segar.

“Kalau di Fotoyu harga standarnya Rp35.000 per foto. Sebenarnya harga bebas ditentukan fotografer, tapi kita sepakat menjaga harga pasaran di Pontianak,” jelasnya.

Bagi Dhika, hasil dari Fotoyu bisa dianggap sebagai investasi.

“Jika tidak laku hari ini, bisa saja laku besok atau bahkan beberapa bulan kemudian, selama fotonya masih tersedia.”

Tidak hanya fotografer, aplikasi ini juga perlahan mengikat hati para pengguna. Salah satunya Eki Lusiana, yang awalnya tahu Fotoyu dari temannya saat sedang jogging. Ia sering membeli foto di aplikasi karena merasa hasil tangkapan kamera selalu pas dengan momennya. 

“Kualitasnya bagus dan harganya masih terjangkau, jadi sering beli,” ujarnya. 

Hingga kini, Eki sudah lebih dari tujuh kali melakukan pembelian.

Meski begitu, ia menilai masih banyak masyarakat Pontianak yang belum familiar dengan sistem Fotoyu. Menurutnya, diperlukan sosialisasi yang lebih luas, misalnya lewat banner di Car Free Day atau acara besar lain agar semakin dikenal.

Walau belum ada komunitas resmi, para fotografer Fotoyu sering berinteraksi di lapangan dan saling mengenal lewat unggahan mereka. Fenomena ini menunjukkan bagaimana budaya olahraga di Pontianak membuka ruang ekonomi baru bagi anak muda, terutama yang memiliki minat di bidang fotografi.

Fotoyu di Pontianak menjadi contoh bagaimana teknologi bisa merangkul budaya lokal dan kebiasaan masyarakat. Dari rutinitas joging sore, lahirlah peluang ekonomi kreatif yang adaptif, memberi ruang bagi fotografer muda untuk menjadikan hobinya sebagai karya yang bernilai. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top