Cerita Kota

Lingkar Temu Praktik Kolektif Bersama ruangrupa

23 Februari 2024

687 views

Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id
Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id

CERITA KOTA | Matahari mulai menurunkan terik yang menyengat Khatulistiwa. Wajar saja, waktu menunjukkan pukul setengah empat sore di akhir pekan (18/2). Pada lantai dua sebuah kafe bernama Everyone, beberapa pegiat seni kreatif di Pontianak, datang bersua. Tidak banyak, namun cukup untuk menggelar diskusi hangat. Mereka duduk melingkar. 

Diskusi ini merupakan inisiatif Susur Galur menjembatani pertemuan dengan ruangrupa; sebuah organisasi seni rupa kontemporer yang didirikan pada tahun 2000 oleh sekelompok seniman di Jakarta. Hingga kini, ruangrupa telah tumbuh menjadi salah satu entitas seni budaya yang berpengaruh di Indonesia.

Aktivitas ruangrupa berfokus untuk mendorong kemajuan gagasan seni rupa dalam konteks urban dan lingkup luas kebudayaan melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan seni budaya, seperti pameran seni, pertunjukan, diskusi, proyek kolaboratif serta beragam inisiasi kreatif-kolektif.

Program Coordinator ruangrupa, Indra Ameng membuka diskusi dengan menceritakan awal mula berdirinya ruangrupa. Semua menyimak, mendengarkan. Seakan diajak masuk lewat mesin waktu untuk mundur ke era tahun 2000. Hampir 25 tahun lalu. 

Dikisahkannya, pada masa awal reformasi terdapat ruang-ruang terbuka di Jakarta. Sekelompok seniman muda melihat adanya kebutuhan masyarakat sehari-hari dalam konteks seni rupa dan ruang terbuka. Inisiatif ruangrupa dalam menjawab kebutuhan ruang kolektif seni rupa, tidak langsung berada pada ruang publik yang ramai. Mereka memulainya dari sebuah rumah kontrakan. Tak jarang berpindah-pindah menyesuaikan harga terbaik.

Baru pada tahun 2015, ruangrupa mengembangkan platform budaya di sebuah gedung yang berada di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan, yakni Gudang Sarinah. Platform ini diberi nama Gudang Sarinah Ekosistem (GSE) yang giat membangun jejaring, berkolaborasi, berbagi pengetahuan dan ide, serta mendorong pemikiran kritis, kreativitas, dan inovasi. GSE berjalan aktif selama 3 tahun.

Petualangan baru dimulai oleh ruangrupa pada 2018. Bersama Serrum dan Grafis Huru Hara, ruangrupa memprakarsai GUDSKUL: Studi Kolektif dan Ekosistem Seni Rupa Kontemporer; ruang belajar untuk publik. Salah satu aspek menarik dari ruangrupa adalah pendekatannya yang inklusif dan kolaboratif terhadap seni. Sering kali ruangrupa melibatkan berbagai komunitas seniman dan anggota masyarakat dalam proses kreasi dan pengorganisasian acara. 

Selain menyelenggarakan kegiatan seni dan budaya, ruangrupa juga terlibat dalam proyek-proyek yang bertujuan untuk membangun kesadaran akan isu-isu sosial, politik, dan lingkungan. Mereka menggunakan seni sebagai sarana efektif untuk menggalang kesadaran dan memicu perubahan positif dalam masyarakat.

Cerita perjalanan ruangrupa menjadi pemantik diskusi sore itu. Para pegiat seni turut berbagi pengalaman tentang dinamika hidup-menghidupi ruang seni dan praktik kolektif di Kota Pontianak. Mereka yang hadir diantaranya dari komunitas Emehdeyeh, District.06, Parklife Collective Space, Manjakani, Siberdaya Media, Pontinesia dan Ayu Murniati (seorang perupa Pontianak yang baru saja menggelar pameran tunggal bertajuk Ku Mulai).

Dalam lingkar temu ini, ruangrupa memperkenalkan proyek seni Lumbung Bersambung; sebuah tawaran metode dalam usaha pemajuan ekosistem seni-budaya alternatif. Implementasi ide Lumbung telah dilakukan ruangrupa saat terpilih sebagai kurator dalam Documenta Fifteen (2022), pameran seni terkemuka yang diadakan di Kassel, Jerman. 

Perkenalan Lumbung Bersambung di Pontianak merupakan bagian dari riset awal untuk mengeksplorasi kondisi dan perkembangan seni budaya terkini, untuk selanjutnya dapat menghadirkan Lumbung Kalimantan. Program ini juga termasuk ke dalam rangkaian ulang tahun ruangrupa ke-25 pada tahun 2025 mendatang.

Filosofi Lumbung mengacu pada fungsi berkumpulnya sumber daya untuk memberikan dampak. Secara garis besar, ide Lumbung dalam konteks seni-budaya merupakan gagasan praktik kolektif: berbagi, kerjasama, dan kolaborasi guna menciptakan ekosistem inklusif dan berkelanjutan. Harapan baik menyala di Khatulistiwa. Semoga dengan energi kolaborasi dan inklusi, ruang-ruang seni berbasis praktik kolektif dapat tetap hidup, terus bertumbuh serta membawa dampak baik dalam kultur sosial budaya di Kota Pontianak.

Ikuti terus cerita dari Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top