Begadoh: Hajatan Sonikustik dan Serat Pakis dalam Improvisasi Musik Elektronik
24 Februari 2024 |
649 views |
Anak Muda Mulai ‘Begadoh’ Saat Pemilu Usai CERITA KOTA | Hiruk pikuk masyarakat di seluruh penjuru kota terlihat merayakan pesta demokrasi dalam momentum pemilihan umum 14 Februari 2024 lalu. Tak luput dari pandangan, terlihat sekelompok anak muda turut sibuk dan berpesta dengan bunyi-bunyian. Saat itulah ‘kegaduhan’ dimulai pada salah satu ruang publik di Kota Pontianak. Setelah ditelusuri, ternyata ‘kegaduhan’ itu memang sengaja dihadirkan oleh sekelompok anak muda yang menamakan dirinya dengan Sonikustik, kelompok pelaku seni yang fokus terhadap pertunjukan musik eksperimental dan inovasi instrumen sejak 2019. Setelah vakum selama empat tahun terakhir, Sonikustik merealisasikan sebuah lokakarya musik yang dilanjutkan dengan pertunjukan “Begadoh”. Kembalinya Sonikustik dalam ekosistem musik lokal, diinisiasi dengan kolaborasinya bersama serikat artistik Serat Pakis, yang memang baru dibentuk, terdiri dari beberapa pelaku seni interdisiplin yang ada di Kota Pontianak dan sekitarnya. Ruang ini dijadikan wadah pelaku seni untuk bertukar pandangan dan pengalaman, khususnya dalam menyikapi fenomena sekitar (dalam lingkup past, present, future) agar dapat diwujudkan secara kolektif dan mandiri. “Begadoh” untuk kali pertama dibuka dengan 10 partisipan lokakarya musik elektronik analog circuit bending, yang kemudian menyajikan hasil karyanya dalam pertunjukan improvisasi. Rentetan agenda tersebut dipandu oleh Angga Khasbullah, Rama Anggara, Rami Syahbandi, Juan Arminandi dan Ferdi sebagai fasilitator dari Sonikustik. Agenda ini dihelat sejak siang hari di Kardja Kopi, Pontianak. 
Analog circuit bending merupakan satu di antara teknik yang dapat diterapkan dalam pengolahan musik elektronik secara analog. Sederhananya, suatu rangkaian elektronik general (pabrik) diretas manual guna mencari kemungkinan variasi dan ornamen bebunyian yang dapat dihadirkan dari arus pendek bermuatan listrik rendah. Ornamen ini kemudian dijadikan medium bunyi sebagai materi musikal. Seluruh partisipan dari berbagai latar belakang disiplin ilmu dan pengalaman terlihat antusias, masuk ke dalam proses eksplorasi musik elektronik masa kini. Sepuluh orang tersebut diantaranya: Wahyu, Rosidin, Melano, Fadhli, M. Iyas, Irfan Walker, Nasir, Fadhli Fitriyanda, Sony dan Akbar. Lokakarya dimulai dengan materi pengantar serta praktik oleh Sonikustik yang berisi tentang roll model device instrumen dalam eksplorasi circuit bending secara sederhana dengan rangkain komponen elektronik dari mainan anak. Kemudian teknik tersebut diimitasi dan dikembangkan oleh para partisipan dengan pembagian device rangkain elektronik yang berbeda untuk dieksplorasi berkelompok. Uniknya banyak bebunyian yang tak terduga bermunculan. 
Hingga sore hari, eksplorasi diselesaikan oleh partisipan, dilanjutkan dengan generalisasi bentuk rangkain elektronik hasil dari lokakarya. Forum diskusi dibuka oleh Sonikustik kepada partisipan dalam konteks penyajian musik secara improvisasi dengan instrumen tersebut. Sesuatu yang istimewa, kompleks dan menarik ketika pertunjukan dirancang menggunakan media instrumen musik hasil eksperimentasi. Pertunjukan musik eksperimentasi ini, selanjutnya disajikan dalam empat sesi. Adapun tiga sesi pertama merupakan pembagian kolaborasi antar partisipan. Sementara di sesi terakhir adalah pertunjukan kolaborasi antara partisipan dan teman-teman dari Sonikustik. Berbagai jenis bebunyian yang unik hadir dengan varian kombinasi dan momentum dalam sajian tersebut. Stilasi dan distorsi pun terdengar begitu kontras, kompleks, serta spektakel yang hadir menjadi daya tarik auditif dalam pertunjukan. Secara musikal, motif yang hadir dalam improvisasi bersumber dari dalam preset mainan elektronik, namun dengan variasi ornamen dan pengolahan dari circuit bending dalam beberapa momentum. Hal ini merupakan satu di antara strategi pendekatan apropriasi dan dekonstruksi dalam penciptaan karya. 
Tidak diduga, pertunjukan tersebut juga mengundang rasa penasaran hingga dihadiri oleh berbagai apresiator dari berbagai kalangan. Para apresiator sangat tergugah dengan kehadiran musik eksperimental seperti itu. Menurut Juan, meskipun di Kota Pontianak kehadiran pertunjukan eksperimental musik elektronik seperti ini dapat dikatakan kurang masif dan masih segmented, akan tetapi Sonikustik tetap mencoba untuk membuka ruang ekspresi yang lebih luas melalui media eksperimennya. Rangkaian “Begadoh by Sonikustik” dapat terlaksana bersama dengan serikat artistik Serat Pakis berkat dukungan dari Kardja Kopi, Rawdoc dan Nasi Jalang. Menurut Angga salah seorang dari Sonikustik, kerja interdisiplin seperti ini memang menguras tenaga, logika dan kreativitas, namun menjadi pemantik yang baik. Semoga agenda eksperimentasi musik ini dapat terus berlanjut dan semakin eksis di waktu dan kesempatan yang akan datang. (*) Ikuti terus cerita dari Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia! --- *Artikel diolah dari Press Release yang diproduksi oleh Serat Pakis
|