Di Teras Masjid Kita Kembali
CERITA KOTA | Idulfitri adalah momen penuh kegembiraan yang dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Selain sebagai hari kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh, Idulfitri juga menjadi ajang untuk berkumpul bersama keluarga, sahabat, dan masyarakat. Salah satu tradisi yang menarik dan unik terjadi di daerah Teluk Pakedai, sebuah wilayah yang terletak di pesisir Kabupaten Kubu Raya, Kalbar dengan komunitas yang kental dengan ikatan kekeluargaan dan budaya. Setelah melaksanakan salat Idulfitri, masyarakat Teluk Pakedai tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Mereka berkumpul di teras masjid untuk menikmati hidangan khas yang dibawa oleh setiap keluarga. Tradisi ini bukan hanya sekadar makan bersama, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga, baik yang tinggal di kampung maupun yang merantau dan pulang kampung untuk merayakan lebaran. Hidangan yang disajikan biasanya terdiri dari berbagai makanan tradisional yang menggugah selera. Di antaranya adalah ketupat, patlau, dan pulut panggang (lemang). 
Ketupat yang terbuat dari beras dan dibungkus daun kelapa. Sementara itu, patlau adalah sejenis hidangan pulut (ketan) yang dibungkus menggunakan daun pisang lalu direbus kurang lebih 8—10 jam, sementara pulut panggang merupakan makanan yang sama seperti patlau, hanya saja makanan ini tidak direbus, tetapi dipanggang. Ketiga jenis makanan tersebut menjadi simbol identitas yang dimiliki masyarakat Teluk Pakedai dalam aspek berkeagamaan, terutama di saat lebaran. Selain ketupat, patlau dan pulut panggang, masyarakat Teluk Pakedai juga menyajikan berbagai lauk pauk yang menggugah selera, seperti opor ayam, udang sambal, dan ikan acar. Opor ayam yang gurih dengan kuah santan menjadi hidangan utama yang tak boleh ketinggalan. Sementara itu, udang sambal dengan rasa pedas dan manis serta ikan acar yang kaya akan bumbu membuat hidangan semakin lengkap dan memanjakan lidah. Setiap keluarga membawa hidangan mereka sendiri dan semua makanan tersebut disajikan bersama-sama di teras masjid. Warga saling berbagi dan menikmati kelezatan hidangan dalam kebersamaan. Makan bersama ini tidak hanya menjadi ajang untuk menikmati makanan, tetapi juga untuk berbincang, bertukar cerita, dan mempererat tali silaturahmi. 
Budaya makan bersama di Teluk Pakedai setelah salat Idulfitri memiliki makna yang lebih dalam. Selain sebagai cara untuk merayakan hari kemenangan, tradisi ini juga menjadi simbol persatuan dan kebersamaan antara masyarakat yang tinggal di kampung halaman dan mereka yang merantau. Idulfitri adalah momen yang ditunggu-tunggu untuk berkumpul dengan keluarga dan kerabat, dan melalui makan bersama, masyarakat Teluk Pakedai dapat merasakan kembali kehangatan dan kedekatan yang mungkin telah lama terpisah oleh jarak. Budaya makan bersama ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Teluk Pakedai tetap menjaga dan melestarikan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun, meskipun zaman terus berkembang. Dalam era modern yang serba cepat ini, banyak orang cenderung sibuk dengan aktivitas masing-masing, kebersamaan seperti ini memberikan sebuah kenangan yang tak ternilai harganya. Acara makan bersama di teras masjid ini tidak hanya sekadar sebagai ajang makan, tetapi juga sebagai cara untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya kebersamaan, berbagi, dan saling mendukung. Kebudayaan ini menjadi bukti bahwa meskipun dunia semakin maju, nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan tetap menjadi inti dari kehidupan masyarakat Teluk Pakedai. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|