Cerita Kota

Doa dan Jalan Pulang

8 September 2025

338 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Sebuah kapal dan pesawat yang dipajang, mencolok di tengah keramaian Vihara Tridharma, Mempawah, kemarin. Di sanalah, di tengah keramaian umat dan asap dupa yang membumbung, sebuah ritual sakral dilaksanakan.

Sembayang Rampas. Sering juga dikenal dengan nama Sembayang Rebutan atau Festival Ghost, sebuah perayaan tahunan masyarakat Tionghoa di Mempawah yang selalu jatuh pada tanggal 15 bulan ketujuh penanggalan Lunar. Di Kalimantan Barat sendiri, perayaan ini rutin dilaksanakan di tiga vihara besar, yaitu di Pemangkat, Mempawah, dan Kubu Raya.

Kata “rampas” dalam keseharian punya makna mirip dengan “merebut” atau “mengambil dengan cepat.” Namun, di dalam konteks ritual, “rampas” tidak bermakna negatif, melainkan simbol berbagi berkah. Apa yang dipersembahkan untuk roh-roh yang tersesat, kemudian diambil kembali oleh manusia untuk dimanfaatkan.

Ritual dimulai sejak pagi, sekitar pukul delapan. Umat berkumpul, dupa dipasang, doa-doa dibacakan, dan meja persembahan dipenuhi buah, makanan instan, hingga perlengkapan lain. Setelah siang berlalu, doa penutup digelar untuk menandai akhir prosesi.

Puncaknya adalah saat pembakaran kapal dan pesawat dimulai. Menjelang malam, warga berkumpul menyaksikan replika itu dilalap api. Suasana hening, hanya doa yang bergema. Api dipercaya sebagai cahaya jalan bagi roh-roh yang meninggal secara tidak wajar atau belum sempat bereinkarnasi.

“Kapal dan pesawat itu ibarat kendaraan untuk roh. Kita buat untuk mengantar roh-roh yang terantara supaya bisa balik ke tempat asalnya. Kalau tidak, mereka bisa gentayangan,” tutur Zee Know, Sekretaris 2 Yayasan Tridharma Mempawah.

Meski berakar dari ajaran Tionghoa, acara ini terbuka bagi siapa saja. Setelah sesi doa berakhir, masyarakat dari berbagai kalangan dipersilakan untuk mengambil sesajian. Mulai dari makanan, buah-buahan, hingga kebutuhan sehari-hari semua diperebutkan dengan riuh gembira. 

Hal ini dipercaya menjadi keyakinan bahwa barang yang telah didoakan itu membawa berkah, keselamatan, serta rezeki bagi siapa saja yang berhasil mendapatkannya. 

Suasana riuh, gelak tawa, dan tangan-tangan yang saling berebut justru menjadi penanda semangat berbagi dalam kebersamaan.

Di luar vihara, masyarakat pun menghidupkan tradisi dengan cara sederhana yaitu membakar kertas atau dupa di depan rumah masing-masing. Tindakan kecil itu diyakini sebagai cara memberi santunan bagi roh-roh gentayangan di jalanan, pasar, atau tempat-tempat sepi. 

Seolah ada pesan filosofis yang diam-diam diwariskan, bahwa dunia orang hidup dan dunia roh sebenarnya hanya dipisahkan oleh tabir tipis, dan di momen tertentu, api yang menyala itu adalah jembatan halus yang menyatukan keduanya. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top