Kue Keranjang: Sajian Dewa Tungku yang Sarat Pantangan
8 Februari 2024 |
880 views |
CERITA KOTA | Kue keranjang merupakan panganan khas Imlek yang punya nilai magis. Selain dipercaya jadi sajian dewa-dewa, proses pembuatannya tak bisa sembarangan. XF Asali dalam bukunya Aneka Budaya Tionghoa Kalimantan Barat menulis, selain dikonsumsi, kue keranjang juga menjadi bahan perlengkapan sembahyang warga Tionghoa saat Imlek. Kue ini berkaitan dengan legenda Dewa Tungku, yang berkembang di daratan Tiongkok dan menyebar hingga ke Indonesia. Asali mengisahkan masyarakat Tiongkok saat itu meyakini setiap anglo atau tungku yang menjadi tempat mereka memasak sehari-hari di dapur dijaga seorang dewa. Dewa tungku ini merupakan utusan Tuhan atau raja surga. la ditugasi mengawas aktivitas manusia di dapur setiap hari. Pengawasan tersebut akan dilaporkan bke raja surga setiap menjelang akhir tahun berdasarkan penanggalan Imlek. Sebagai sajian, agar Dewa Tungku tidak melaporkan berita buruk, warga bersepakat barnyajikan kue keranjang. Kue ini dulunya dibuat dengan cetakan bambu, hingga akhirnya dinamai kue keranjang. "Kue ini dipilih karena bertekstur kenyal dan lengket saat dimakan sehingga dewa tersebut diharapkan tidak akan banyak berbicara saat menghadap raja surga," tulisnya XF Asali. Harapannya, saat melapor, Dewa Tungku akan teringat dengan kue keranjang yang berasa manis. Sehingga laporannya pun berisikan (berita) yang manis-manis. Akan tetapi, sajian ini ternyata memiliki sejumlah pantangan dalam proses pembuatan. Jika dilanggar, hasilnya bisa tak sesuai harapan. "Kalau (pantangan) dilanggar, kuenya tidak akan pernah jadi. Tidak bisa mengeras atau warnanya tetap putih," tulis Aries Munandar dalam buku [Bukan] Generasi Terakhir-Jejak Pelestarian Budaya Tionghoa di Kalimantan Barat. Pantangan itu antara lain, proses pembuatan tidak boleh dilihat atau dikunjungi oleh pembeli yang habis melayat orang meninggal dunia. Selain itu, wanita sedang datang bulan, dilarang mengunjungi tempat pembuatan. Apalagi ikut membantu proses pembuatan kue. Pantangan terakhir, perlengkapan pembuat kue hanya boleh digunakan setahun sekali dan khusus untuk membuat kue keranjang. Berbagai pantangan tersebut hingga kini masih ditaati para perajin. (*) Ikuti terus cerita dari Pontinesia untuk makin tahu Pontianak, makin tahu Indonesia!
|