Menjaga Bahasa Melayu Pontianak agar Tidak Hilang
8 September 2025 |
440 views |
“Bahasa tidak diajarkan, tapi dibiasakan.” Begitu yang disampaikan Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amalia dalam kegiatan Diseminasi Silabus Pembelajaran Bahasa Daerah yang digelar Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat bersama Universitas Tanjungpura (Untan), Senin (8/9/2025) di Aula Rektorat Untan. Kalimat itu menegaskan bahwa pelindungan bahasa daerah tidak cukup hanya lewat kelas formal atau mata kuliah, melainkan harus hadir di tengah kehidupan sehari-hari. Sebab, bahasa tidak sekadar materi ajar, tetapi jati diri yang diwariskan antargenerasi. Di Pontianak, bahasa Melayu semakin jarang terdengar murni dalam percakapan generasi muda. Kalimat-kalimat yang muncul kini lebih banyak bercampur dengan bahasa Indonesia. Fenomena ini perlahan menggerus identitas lokal, padahal bahasa daerah menyimpan pengetahuan, nilai, serta kearifan yang unik. “Persoalan bahasa adalah persoalan jati diri. Kalau satu bahasa hilang, bukan hanya bahasanya yang hilang, tetapi juga sumber-sumber pengetahuan ikut hilang,” tambah Dora. Proses kematian bahasa sering kali dimulai dari rumah. Banyak keluarga muda di Pontianak lebih memilih membiasakan anak-anak mereka berbahasa Indonesia, dengan alasan praktis atau agar anak cepat menyesuaikan diri di sekolah. Akibatnya, bahasa Melayu Pontianak makin jarang diwariskan. Padahal, bahasa tidak akan hidup tanpa kebiasaan sehari-hari: percakapan keluarga, permainan tradisional, atau cerita yang dituturkan dari orang tua ke anak. Kondisi ini menjadi perhatian Balai Bahasa Kalbar. Bersama Untan, mereka berkomitmen memasukkan bahasa daerah ke dalam kurikulum pendidikan tinggi, khususnya Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). “Selama ini revitalisasi bahasa daerah belum menyentuh perguruan tinggi, padahal calon guru SD sangat penting karena mereka akan menjadi pengajar semua mata pelajaran, termasuk bahasa daerah,” jelas Kepala Balai Bahasa Kalbar, Uniawati. Dengan cara itu, guru dapat membiasakan siswa sejak dini menggunakan bahasa daerah, misalnya melalui cerita rakyat, sastra lisan, hingga permainan tradisional. Rektor Universitas Tanjungpura, Prof Garuda Wiko turut menekankan pentingnya bahasa daerah sebagai sumber pengetahuan. “Kalau kita kehilangan bahasa daerah, kita tidak hanya kehilangan budaya, tetapi juga kehilangan pengetahuan,” ujarnya. Bahasa daerah bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan wadah nilai sosial, ikatan kemasyarakatan, hingga ramuan obat tradisional yang diwariskan turun-temurun. Pelindungan bahasa daerah memang membutuhkan program strategis, tetapi keberlangsungan sejatinya bermula dari kebiasaan sederhana. Jika orang tua membiasakan berbicara dengan anak dalam bahasa Melayu, jika sekolah memberi ruang bagi cerita dan sastra lisan, maka bahasa itu akan terus hidup. Melayu Pontianak hanya akan tetap terdengar bila dipakai dengan bangga dalam kehidupan sehari-hari. Karena menjaga bahasa daerah berarti menjaga identitas, budaya, dan pengetahuan yang diwariskan nenek moyang. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|