Cerita Kota

Merdu Warisan Budaya Jawa di Tanah Rantau

29 Agustus 2025

307 views

Kontributor :
Mia Islamidewi
@miaislmdw
Kontributor :
Mia Islamidewi
@miaislmdw

CERITA KOTA | Suasana Wonodadi 1, Kabupaten Kubu Raya, lebih riuh dari biasanya. Tampak sejak sore Selasa (26/8/2025), halaman tempat pertunjukan mulai ramai dipenuhi warga setempat. Mereka beramai-ramai mengambil posisi terbaik.

Pertunjukan di Wonodadi itu diberi tajuk Gending Gawehane Hamiluhung. Perayaan ini memang menyajikan acara seni sekaligus penanda, bahwa warisan budaya Jawa masih eksis walau di tanah rantau. Di tengah keragaman masyarakat Kalimantan Barat, budaya Jawa ditandai bunyi gamelan hadir sebagai pengingat bahwa identitas budaya bisa hidup berdampingan.

Acara dibuka dengan penampilan anak-anak dari sekolah dasar dan menengah di sekitar Wonodadi. Jemari kecil mereka memukul bilah gamelan, menghasilkan gending pembuka yang sederhana tapi sarat makna budaya. 

Bagi Sanggar Hamiluhung, anak-anak jadi maura sanggar ini. Mereka pula yang jadi daya tarik tersendiri, membuat lembaga seperti Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XII Kalbar beri dukungan. 

Kepala BPKW XII, Juliadi, yang hadir di barisan depan dan sempat bawakan sambutan hangat. Ia berpesan bahwa penampilan sederhana dari anak-anak malam itu adalah pengingat tentang pentingnya menjaga budaya agar tetap diwariskan. Dukungan dari program bantuan BPKW XII Kalbar menjadi salah satu penyokong perayaannya terlaksana. Curahan perhatian dan dukungan pendanaan jadi aksi nyata dorongan besar untuk keberlanjutan budaya.

Harmoni Dua Tradisi

Sanggar Hamiluhung tidak hanya tampil sendiri, tapi jalin kolaborasi bersama grup Hadrah Ahbabul Mustho. Tabuhan rebana dan lantunan sholawat berpadu dengan gamelan, menciptakan merdu budaya yang sopan lewat di telinga. Beberapa lagu nasional seperti “17 Agustus” dan “Garuda Pancasila” dibawakan dengan penuh semangat.

Sukses menarik penonton untuk turutu bersenandung. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa musik bisa menjadi jembatan. Saat penyanyi lokal, Ayu Kartika dan Geby Prasela, membawakan “Bengawan Solo” dan “Perahu Layar,” suasana Selama malam itu terasa lebih hangat. Berlayar membawa penonton ke nilai-nilai budaya dari tanah Jawa.

Di balik meriahnya pertunjukkan, sempat ada sandungan. Koordinator acara, Ilham Listiantoro, menjelaskan bahwa gamelan yang dimainkan tidak selaras. Suaranya sumbang, bahkan hampir tidak bisa digunakan. Untuk memperbaikinya, mereka mendatangkan seorang ahli pelaras gamelan dari Solo, Juni Susanto. 

Pekerjaan melaras gamelan bukan hal mudah. Memerlukan ketelitian, pendengaran yang terlatih, dan pengalaman bertahun-tahun. Tanpa itu, gamelan kehilangan suara aslinya. Ilham merasa lega ketika akhirnya gamelan kembali berbunyi jernih. 

Dari Wonodadi, selaras bunyi gamelan menyampaikan pesan yang jelas. Budaya bisa bertahan jika banyak yang peduli dari berbagai lapisan generasi. Mulai dari para seniman yang merawat tradisi hingga lembaga yang memberi dukungan juga apresiasi. 

Pertunjukan Gending Gawehane Hamiluhung jadi salah satu bukti. Dari awal dari babak baru sebuah cerita; bahwa di tengah perubahan zaman, suara gamelan tetap menemukan tempatnya meski sedang di tanah rantau. (*)




Top