Cerita Kota

Panggilan untuk Perantau Khatulistiwa

7 September 2025

449 views

Kontributor :
Adinda Y.R
@adindaydtmrae
Kontributor :
Adinda Y.R
@adindaydtmrae

“Kapan kau balek Pontianak?”

Pertanyaan itu sering kali mampir di telinga para perantau. Kadang datang lewat telepon. Pemantiknya mulai dari orang tua, teman, kekasih, hingga orang-orang yang pernah ditemui.

Belum lagi ketika tanggal merah panjang, seringkali pertanyaan muncul di WhatsApp grup adalah ajakan untuk pulang. Sebuah pertanyaan simpel, dengan banyak makna.

Pontianak.

Sekadar mendengar namanya, seolah kenangan dari hangatnya matahari menjadi pengingat darimana Kawan Pontinesia berasal. Kota ini tumbuh di tengah sungai terpanjang di Indonesia, Kapuas. Keramaian terlihat dari aktivitas hilir mudik perahu motor. Kapuas menjadi jembatan temu pedagang, nelayan dan hasil tangkapannya. Pula mereka yang siap sedia di seberang.

Sebagai ibu kota provinsi, Pontianak menjadi ruang temu banyak orang. Mereka menghabiskan rindu di warung kopi, saling memeluk lewat obrolan. Tak selalu soal hari ini, mereka juga membicarakan masa lalu dan merencanakan yang akan datang.

Bagi para perantau, kadang meninggalkan Pontianak adalah suka dan duka di waktu bersamaan. Tidak sedikit yang senang karena bisa ke luar pulau, eksplor tempat baru, dan menikmati kehidupan yang tak pernah ada di Pontianak. Tapi selalu ada ingatan masa kecil yang memanggil, ingin dikunjungi dan dipeluk kembali.

Beberapa menyebutnya sebagai rindu. Beberapa tahu, alasannya tak selalu hanya satu.

Rumah

Bagi para perantau, rumah menjadi alasan utama untuk pulang. Rumah bukan sekadar bangunan, tapi juga hadir dalam bentuk orang-orang yang dekat di hati, teman, sahabat, kekasih, keluarga. Kehadiran mereka, kebiasaan sehari-hari, dan momen-momen kecil bersama menjadi penanda.

Saat suara tawa terdengar di meja makan, aroma masakan yang familiar tercium, atau sekadar melihat teman lama berkumpul, semuanya seolah mengajak untuk pulang. Bagi Kaka misalnya, perantau yang sedang berkuliah di Jogja, kota ini memang identik dengan rumah dan orang-orang yang dicintainya. 

“Rumah, keluarga, dan teman,” ujarnya.

Suasana sederhana seperti makan bersama keluarga di meja makan pun meninggalkan kesan mendalam.

“Suara obrolan di meja makan, obrolan di tongkrongan, bahkan omelan ortu, semuanya terasa hangat,” tambahnya.

Seakan menegaskan bahwa rumah bagi perantau bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang penuh memori yang selalu dirindukan.

Kopi

Pagi di Pontianak tidak lengkap tanpa secangkir kopi yang menembus udara lembab. Kopi telah menjadi budaya untuk pembuka dan penutup hari. Menjadi teman di sela rutinitas dan pengantar momen untuk bertemu dengan banyak orang.

Di mana ada kopi, di situ ada interaksi. Tidak ada jam khusus, tidak peduli hari, kopi selalu berdampingan dengan kehidupan masyarakat Pontianak, menciptakan ritual yang tak lekang oleh waktu.

Seorang warga kota, Hana--yang kini merantau di Surabaya, bercerita berada di warkop sudah jadi kesehariannya.

“Ngopi di warkop, itu budaya Pontianak banget! Sekali pulang, aku nggak bisa stop nongkrong,” ceritanya.

Walau beberapa temannya tak minum kopi, mereka tetap bertemu di warung kopi. Ajakannya pun tetap, ayo ngopi.

Atmosfer

Di setiap pagi, pasar tradisional menjual berbagai macam rempah, ikan segar serta aneka ragam hasil bumi yang menghasilkan aroma khas, membangun semangat kota. Siang hari, suasana kota didominasi terik matahari dan beberapa tempat kopi menjadi ruang istirahat para pekerja.

Memasuki waktu sore, keramaian perlahan mereda, meninggalkan ketenangan untuk mengakhiri tanpa sisa. Namun, uniknya di malam hari, keramaian hadir memulai kehidupan kembali seperti pagi.

Kehidupan dimulai di warung kopi dan coffee shop. Orang-orang melepas lelah, tertawa, dan berbagi cerita. Sebuah ritme yang berkembang menjadi budaya.

Naldi, perantau nomaden yang sudah pindah beberapa negara, merasa ada yang beda dengan tanah kelahirannya. Kota ini memiliki sunyi dan riuh yang seimbang. Belum lagi, suasana lebaran.

“Selain kumpul bareng keluarga, pastinya kumpul sama teman-teman SMA ataupun teman-teman yang lain. Kenangan banyak di Pontianak bikin aku harus balik,” ujarnya.

Kenangan Favorit

Sekolah, kampus, gang-gang kecil, warung, serta tanah lapang tempat keringat bercucuran, semua menyimpan nostalgia tak tergantikan. Ketika beranjak dewasa, memori itu tidak hilang, hanya bergeser ke kebiasaan nongkrong bersama teman.

Iqbal misalnya, walau kini merantau di Jogja, ia mengingat Pontianak dari kulinernya.

“Nasi goreng Iin dan Ayam Ancur nggak ada obatnya di kota lain,” ujarnya.

Dua tempat itu yang akan selalu ada di daftar kunjungnya setiap pulang.

Dari banyak hal kecil yang tidak bisa dihindari, keinginan untuk pulang seringkali tertahan akan ribuan alasan. Cuti atau libur semester yang singkat, ujian kampus, lembur di kantor, proses kenaikan jabatan di tempat kerja, bahkan luka lama yang mungkin belum selesai. Semuanya terakumulasi menjadi perasaan janggal, kadang kosong, atau aneh. Sesuatu yang sejatinya, sebuah penanda.

Maka, mulailah menabung, bukan sekadar uang, tapi waktu dan kesempatan. Tidak ada tanggal yang benar-benar menunggumu siap berkemas dan pulang. Ingatlah, angka-angka yang berwarna hitam itu, selalu bisa dimerahkan. (*) 

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!

Foto: Pexels (Rendi)




Top