Sepekan Aksi Massa di Kalbar
4 September 2025 |
261 views |
CERITA KOTA | Suara rakyat tak pernah benar-benar sunyi. Sepekan terakhir, dari Pontianak hingga Melawi, dari Sambas hingga Ketapang, jalanan Kalimantan Barat dipenuhi langkah yang sama: menuntut keadilan. Gelombang ini bukan sekadar rentetan demo. Ia adalah cermin keresahan yang lama terpendam. Tentang kebijakan yang kerap jauh dari rakyat. Tentang kebijaksanaan yang jauh dari harap. Tentang harapan yang meski dibenturkan, tak pernah padam. Sepekan aksi massa di Kalimantan Barat sejak 27 Agustus hingga 3 September 2025 memperlihatkan konsistensi suara rakyat dalam menuntut keadilan, transparansi, serta penghentian tindakan represif aparat. Dari Pontianak, Sintang, Mempawah, hingga Sambas dan Melawi, mahasiswa bersama masyarakat sipil bergerak membawa berbagai isu, mulai dari penolakan kenaikan tunjangan DPR, desakan pengesahan RUU Perampasan Aset, hingga solidaritas atas wafatnya seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan. 
27 Agustus 2025 | Seruan Aksi Kalbar Bergerak DPRD Provinsi Kalbar, Pontianak Isu yang diangkat: Penolakan tunjangan DPR. RUU Perampasan Aset yang mangkrak, gaji guru dan dosen yang tak kunjung adil, kerusakan lingkungan akibat PETI, hingga sikap represif aparat yang menggerus demokrasi. Gas air mata menyesaki udara di depan DPRD Kalbar. Suara mahasiswa pecah, menantang keputusan yang mereka anggap tak adil. Belasan orang diamankan. Namun di balik kericuhan, ada suara yang tetap ingin didengar. Bahwa gaji dan tunjangan para wakil rakyat tak sebanding dengan jerih lelah rakyat kecil. Mereka menuntut RUU Perampasan Aset segera disahkan. Mereka ingin supremasi sipil ditegakkan. 28 Agustus 2025 | Gelombang Kedua oleh Mahasiswa DPRD Provinsi Kalbar, Pontianak Isu yang diangkat: Kritik kebijakan nasional & tuntutan keadilan, tuntutan pembebasan beberapa orang yang ditangkap di hari sebelumnya. Massa bergerak pukul 15.15 ke DPRD Provinsi Kalimantan Barat. Isu yang diangkat hampir sama dengan sebelumnya dan berjalan lebih kondusif dari hari sebelumnya. 29 Agustus 2025 | Titik Krusial Aksi DPRD Provinsi Kalbar dan Jl. Ahmad Yani Isu yang diangkat: Penolakan tunjangan DPR, aparat represif, bentuk respons terhadap kematian Affan Kurniawan. Hari ketiga, ketegangan semakin sulit dibendung. Sebuah pos polisi di sekitar Ayani Mega Mall dimakan api. Aksi yang semula bermula dari orasi, berubah jadi amarah. Kritik terhadap represifitas aparat bergaung keras di jalanan. Namun di balik api yang membakar, ada keresahan yang lebih besar: apakah suara mahasiswa harus selalu dihadapi dengan kekerasan? 30 Agustus 2025 | Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Sipil MAPOLDA Kalimantan Barat Isu yang diangkat: Desakan proses hukum atas represifitas aparat, desakan pencabutan Kapolda Kalbar. Mereka menyebutnya “Sidang Rakyat.” Di depan Mapolda Kalbar, mahasiswa membawa simbol peradilan tandingan. Beberapa diamankan karena dituduh membawa molotov. Tapi sebagian lain tetap berdiri tegak, menyuarakan evaluasi terhadap aparat. Tuntutan lama masih mereka bawa: cabut tunjangan DPR, sahkan RUU Perampasan Aset. Namun kini, ada satu tambahan. Hentikan represifitas, dengarkan aspirasi. 30 Agustus 2025 | Aliansi BEM se-Kabupaten Sintang Halaman Polres Kabupaten Sintang Isu yang diangkat: Aksi damai sekaligus berkabung dengan menyalakan lilin dan doa bersama. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas atas tewasnya Affan Kurniawan. Kedatangan mahasiswa ke Polres Sintang untuk melakukan aksi damai di sambut Kapolres Sintang. 30 Agustus 2025 | Aksi Damai oleh Sejumlah Mahasiswa Gabungan dari IKAMI, LSKM, PC IPNU hingga PMII Mapolres Mempawah, Jalan Raden Kusno Isu yang diangkat: Koreksi represifitas aparat & permintaan maaf dari aparat. Gabungan mahasiswa yang mengutuk tindakan arogansi dan represif aparat dalam merespon aksi unjuk rasa di berbagai daerah. Kapolres Mempawah AKBP Jonathan David menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang mengakibatkan korban driver ojol, Muhammad Affan meninggal dunia. 
1 September | Dari Ketapang hingga Melawi - Ketapang: Aliansi Mahasiswa Ketapang membawa 17 tuntutan, menekankan pentingnya sikap humanis aparat.
- Singkawang: Aliansi Gerakan Singkawang Memanggil menggelar aksi damai, diikuti mahasiswa, buruh, hingga ojek online. Wali Kota Tjhai Chui Mie turut duduk bersila bersama massa.
- Pontianak: BEM FISIP Untan memimpin aksi di DPRD Kalbar, menghadirkan Gubernur dan Ketua DPRD untuk berdialog.
- Sambas: Aliansi Sambas Bergerak menyoroti kesejahteraan guru honorer dan desakan percepatan RUU Perampasan Aset.
- Melawi: Massa berkumpul di Tugu Juang, menyalakan lilin untuk demokrasi dan mengenang Affan.
2 September | Universitas Panca Bhakti Bergerak Mahasiswa UPB Pontianak mendatangi DPRD Kalbar dengan tuntutan pengesahan RUU Perampasan Aset, RUU Masyarakat Adat, transparansi anggaran, hingga penghentian praktik PETI. 3 September | Aliansi Mahasiswa Kalbar Puncak aksi berlangsung di ruang paripurna DPRD Kalbar. Mahasiswa duduk berhadapan dengan para wakil rakyat, mendesak pertanggungjawaban DPR RI dan Forkopimda atas kisruh berhari-hari. Meski sebagian anggota DPR RI tak hadir, aspirasi terus mengalir: cabut tunjangan DPR, buka transparansi anggaran, lindungi hak-hak masyarakat adat. (*) *Referensi dari berbagai sumber
|