Cerita Kota

Manisnya Panen Melon di Kawasan Wakaf Produktif Munzalan

20 Agustus 2026

68 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Senantiasa memutar lantunan ayat suci Al-Qur’an menjadi salah satu hal yang mengiringi perjalanan ratusan tanaman melon di dalam greenhouse Kawasan Wakaf Produktif Munzalan.

Ayat-ayat suci itu mengalun di antara tanaman yang tumbuh menjalar, menemani proses perawatan sejak bibit ditanam hingga buah-buah melon mulai membesar. Selama kurang lebih 65 hari, tanaman-tanaman tersebut dirawat hingga akhirnya tiba pada masa panen.

Hari itu, suasana greenhouse menjadi lebih ramai. Panen raya melon digelar sebagai bagian dari program Akademi Santri Mandiri Indonesia, sebuah program pemberdayaan yang diinisiasi Baitulmaal Munzalan Indonesia bersama Masjid Munzalan Mubarakan.

Panen tersebut menjadi penanda berakhirnya satu siklus budidaya sekaligus menjadi bagian dari proses belajar bagi para santri yang terlibat di dalamnya.

Di balik buah-buah melon yang kini siap dipetik, ada proses panjang yang dimulai dari bibit kecil. Tanaman perlahan menjalar, berbunga, kemudian menghasilkan buah yang menggantung di antara daun-daunnya.

Bagi Abdul Muiz, Pembina Pondok Pesantren Muinul Islam, melon dipilih karena memiliki masa tanam yang relatif singkat. Dalam sekitar 70 hari, tanaman sudah dapat menghasilkan buah dan dipanen.

Pilihan itu berangkat dari keinginan untuk membuat wakaf tidak berhenti sebagai aset yang diam. Melalui pertanian, lahan tersebut diupayakan menghasilkan sesuatu yang dapat diputar kembali untuk kebermanfaatan.

Menariknya, proses menanam melon di tempat ini juga membawa cara pandang yang berbeda terhadap sesuatu yang selama ini kerap dianggap tidak berguna.

Rumput-rumput yang tumbuh di sekitar lahan tidak buru-buru dibuang atau dibakar. Rumput justru dimanfaatkan sebagai bagian dari nutrisi tanaman. Bagi Abdul Muiz, rumput adalah “emas” bagi petani.

Dari sesuatu yang sederhana itulah tanaman melon tumbuh.

Di dalam greenhouse, tiga varietas melon dikembangkan. Lucano, Legihami, dan Dahlia memiliki karakter yang berbeda, mulai dari tekstur hingga rasa. Percobaan terhadap berbagai varietas juga terus dilakukan untuk menemukan jenis melon yang paling cocok ditanam di Kalimantan Barat.

Sebab bagi mereka, satu kali panen bukanlah akhir.

Panen pertama justru menjadi kesempatan untuk belajar: varietas mana yang paling baik, bagaimana tanaman tumbuh, apa yang harus diperbaiki, dan bagaimana proses tersebut dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih besar.

Di balik kebun melon itu, terdapat pula para santri yang ikut belajar. Pada tahap awal, tiga santri dari tiga pondok berbeda terlibat langsung dalam proses pemberdayaan tersebut.

Mereka belajar dari tanaman yang tumbuh di hadapan mereka. Dari bibit, perawatan, hingga akhirnya melihat buah yang mereka rawat siap dipanen.

Adam Pratama, Direktur Utama Baitulmaal Munzalan Indonesia, menyebut program ini sebagai pemantik bagi kemandirian pondok pesantren. Santri yang telah memiliki kemampuan diharapkan dapat membawa pengalaman tersebut kembali ke pondok masing-masing dan mengembangkan usaha serupa.

Dengan begitu, satu greenhouse tidak berhenti sebagai satu greenhouse. Ia menjadi tempat belajar untuk kemudian melahirkan kebun-kebun baru di tempat lain. Dan mungkin, di situlah cerita melon ini sebenarnya bermula.

Bukan ketika bibit ditanam, melainkan ketika sebuah gagasan kecil mulai dirawat: bahwa tanah wakaf dapat terus menghasilkan, santri dapat belajar menjadi mandiri, dan hasil dari satu panen dapat kembali ditanam untuk melahirkan manfaat berikutnya.

Hanya 70 hari untuk sebuah melon sampai ke meja panen. Namun, untuk sebuah gagasan, mungkin dibutuhkan jauh lebih lama untuk tumbuh. Dan panen hari ini adalah salah satu tanda bahwa gagasan itu mulai berbuah. (*)




Top