Cerita Kota

Menyemai Semangat di Setiap Langkah Santri Berprestasi

22 Agustus 2026

65 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Suara gelak tawa santri terdengar di dalam Gedung Graha Candra Dista Wiradi, Kompleks Bandara Supadio, Kubu Raya, Sabtu (22/8/2026).

Pagi itu, gedung yang biasanya menjadi bagian dari aktivitas di kawasan bandara berubah menjadi ruang perjumpaan bagi puluhan santri dari pondok-pondok mitra Munzalan. Mereka datang dengan pakaian dan cerita masing-masing, membawa pencapaian yang telah mereka kumpulkan dari ruang kelas, lembar-lembar hafalan, hingga berbagai perlombaan yang pernah diikuti.

Hari itu, mereka datang untuk menerima sesuatu yang sederhana, tetapi dekat dengan keseharian mereka: paket belajar.

Tas, sepatu, buku, pulpen, makanan, serta berbagai perlengkapan belajar telah disiapkan. Satu per satu paket berpindah ke tangan para santri yang sebelumnya telah melalui proses kurasi berdasarkan prestasi akademik maupun non-akademik. Sebanyak 1.000 paket belajar dibagikan sebagai bagian dari kelanjutan rangkaian Merdeka Fair Munzalan di bidang pendidikan, sebuah ikhtiar yang sejalan dengan komitmen Munzalan dalam pemberdayaan santri melalui berbagai program pendidikan.

Bagi Direktur Munzalan Indonesia, Adam Pratama, apresiasi semacam ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia melihatnya sebagai cara untuk menjaga semangat anak-anak yang selama ini telah bersungguh-sungguh menempuh jalan ilmu.

“Kami ingin santri yang berprestasi merasakan bahwa ikhtiar mereka dihargai. Paket belajar ini semoga menjadi penyemangat agar mereka terus tumbuh, baik dalam prestasi akademik maupun non-akademik,” ujarnya.

Di antara para penerima terdapat santri yang dikenal karena prestasi di kelas, hafalan Al-Qur’an, hingga capaian dalam berbagai perlombaan. Ada pula santri yatim yang menjadi bagian dari program ini. Prestasi mereka tidak diukur hanya dari nilai, melainkan dari ketekunan yang mereka rawat setiap hari.

Hari itu, prestasi menjelma menjadi wajah-wajah muda yang memenuhi ruangan.

Ada santri yang mungkin lebih akrab dengan kitab daripada panggung. Ada yang mengulang hafalan hingga larut sore. Ada pula yang diam-diam menyimpan mimpi besar di balik seragam pondok yang sederhana.

Rangkaian kegiatan pun tidak berhenti pada pembagian paket. Melalui permainan Merdeka Santri Bahagia, ruangan berubah menjadi tempat di mana anak-anak dapat melepaskan sejenak beban rutinitas mereka. Tawa, sorak, dan semangat saling menyemangati mengalir tanpa perlu dibuat-buat.

Sebab masa belajar tidak selalu harus dipenuhi keseriusan. Ada hari-hari ketika seorang anak berhak merasakan bahwa perjuangannya juga layak dirayakan.

Dari Pondok Pesantren Al-Tikaf Islamiyah, santri yang hadir merupakan mereka yang telah dipilih melalui proses seleksi di lingkungan pondok. Prestasi di kelas, hafalan, hingga rekam jejak perlombaan menjadi bagian dari pertimbangan. Bagi para pengasuh, mereka bukan hanya penerima bantuan, tetapi sosok yang diharapkan mampu menyalakan semangat bagi teman-temannya.

Di balik kegiatan ini, ada kolaborasi yang telah terjalin jauh sebelum hari itu tiba.

Bandara Internasional Supadio bersama Rohis dan Masjid Al-Isra telah menjadi mitra Munzalan selama sekitar tujuh tahun melalui Gerakan Infak Beras. Setiap bulan, mereka mendistribusikan dua hingga empat ton beras kepada pondok-pondok mitra di sekitar kawasan bandara, memastikan kebutuhan dasar para santri tetap terpenuhi.

Perwakilan CSR/InJourney Bandara Supadio sekaligus Ketua Masjid Al-Isra, Gion, mengatakan bahwa pembagian paket belajar ini menjadi kelanjutan dari hubungan yang selama ini dibangun bersama pondok-pondok mitra.

“Anak-anak yang menerima paket hari ini adalah santri dari pondok yang selama ini kami dampingi. Bagi kami, ini bukan hanya tentang memberi bingkisan, tetapi tentang menjaga keberlangsungan semangat belajar mereka,” katanya.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi cukup untuk menggambarkan bahwa sebuah kolaborasi tidak selalu lahir dari pertemuan sesaat. Ia tumbuh dari kepercayaan yang dipelihara dalam waktu yang panjang.

Jika selama ini beras menjadi bentuk perhatian yang rutin hadir setiap bulan, maka hari itu perhatian itu menjelma menjadi tas, sepatu, buku, dan alat tulis—benda-benda kecil yang akan menemani perjalanan belajar para santri.

Sebuah tas akan membawa kitab dan buku pelajaran.

Sepasang sepatu akan mengantar langkah menuju ruang kelas.

Pulpen akan merekam pelajaran, doa, dan mungkin cita-cita yang suatu hari nanti menjadi kenyataan.

Ketika kegiatan mulai selesai, para santri pulang dengan paket di tangan masing-masing. Mungkin beberapa tahun dari sekarang mereka tak lagi mengingat warna tas yang diterima atau permainan yang dimainkan hari itu.

Namun semoga ada satu hal yang tetap tinggal dalam ingatan mereka: bahwa pernah ada orang-orang yang melihat usaha mereka, menghargai ketekunan mereka, dan percaya bahwa setiap langkah kecil seorang santri pantas mendapatkan dukungan. (*)




Top