Merawat Ingatan Kapuas: Peluncuran Zine Vol. 1 Pontianak Biennale
CERITA KOTA | Ketika bilah kayu membelah riak Kapuas di bawah terik Pontianak, sebuah pertanyaan mengusik ruang kesadaran: Apakah kita benar-benar masih hidup bersama sungai, atau sekadar menumpang hidup di dekatnya? Pertanyaan sunyi yang lahir dari atas geladak sampan itu kini menemukan muaranya dalam kumpulan gagasan karya tulis dengan format zine (majalah mini) yang dirilis mandiri (self-publishing) bertajuk “Kota, Sungai, dan Memori yang Tak Pernah Kering”. Paradoks Tepian dan Cermin Kultural Menatap lanskap tepian Kapuas hari ini adalah menyaksikan tegangan yang kontradiktif. Di satu sisi, deretan beton dan riuh modernitas bergegas tumbuh dengan posisi memunggungi arus air. Namun di sisi lain, sisa-sisa ritme kehidupan domestik, tawa riang anak-anak yang menyebur bebas, serta perahu-perahu kayu yang membelah alur masih setia merawat urat nadi tradisi. Pertemuan ini menghadirkan paradoks—sebuah garis batas antara masa lalu yang melarung ingatan dan masa depan yang menuntut percepatan. Dari titik itu tampak jelas bahwa sungai bukan sekadar ornamen geografi atau halaman belakang yang terlupa, melainkan cermin spiritualitas kota. Menatap Kapuas adalah membaca ulang kesadaran kultural: bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari seberapa angkuh manusia menaklukkan alam, melainkan dari bagaimana kita merawat harmoni dengannya. Berangkat dari refleksi tersebut, program “Kapuas Satukan Kita”—yang diinisiasi melalui kolaborasi Susur Galur dan Pontinesia—hadir menawarkan pendekatan pedagogi alternatif. Melalui lokakarya kepenulisan, lahir 10 kontributor yang merajut serpihan ingatan, gagasan, dan ekspresi visual ke dalam zine edisi perdana ini. 
Peluncuran zine ini sekaligus menandai tabuh perdana pra-kegiatan menuju perhelatan Pontianak Biennale yang direncanakan berlangsung pada September–Oktober 2026. Zine ini berfungsi sebagai ruang produksi pengetahuan independen—sebuah wadah untuk mendokumentasikan, merekonstruksi, serta memperluas narasi warga tentang sungai yang melahirkan kota ini. Gagasan reflektif menjelma menjadi kehangatan nyata pada Kamis sore (13/8/2026). Bertempat di Everyone | Coffee Book Space, Jalan Karna Sosial, sesi ramah tamah dan perayaan terbitnya Zine Vol. 1 berlangsung hangat yang dihadiri para kontributor, pegiat budaya, akademisi, hingga rekan-rekan kolektif. 
Acara diwarnai dengan diskusi santai dengan letupan ide-ide segar tentang Kapuas. Dialog mengalir tanpa sekat mekanis, membuka undangan terbuka bagi publik untuk mendefinisikan ulang relasi intim antara manusia, ruang urban, dan air. 
Perilisan Zine “Kota, Sungai, dan Memori yang Tak Pernah Kering” menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, selalu ada ruang untuk berhenti sejenak, menoleh kembali ke sungai, dan memastikan memori kolektif kota ini tidak pernah kering. (*) Baca Zine melalui tautan: s.id/zineptkbiennale1 Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|