Suara Pesisir Borneo Barat: Rekontektualisasi Musik Tradisi Melayu dalam Relevansi Hari Ini
PONTIANAK - Musik tradisi bukan sekadar warisan masa lalu yang statis, melainkan sebuah entitas hidup yang terus bergerak mencari bentuk dan ruang baru. Kesadaran inilah yang mendasari lahirnya sebuah pergelaran karya yang bertajuk “Suara Pesisir Borneo Barat”. Pertunjukan ini diinisiasi oleh grup musik Pucuk Pakis Ansambel (berbasis di Pontianak) bersama beberapa para pelaku budaya Kalbar lainnya sebagai tim produksi yang didukung oleh Dana Indonesiana dalam ruang lingkup penciptaan karya kreatif inovatif. Melalui proses yang cukup signifikan dan mendalam, pementasan ini hadir sebagai jembatan yang menghubungkan akar tradisi dengan dinamika modernitas masa kini. Lahirnya karya-karya dalam pertunjukan ini bermula dari sebuah proses observasi musik Melayu yang tumbuh dan berkembang di wilayah pesisir Kalimantan Barat. Pucuk Pakis Ansambel melakukan penjelajahan langsung untuk merekam, mempelajari, dan menyerap otentisitas musik daerah yang tumbuh subur di kalangan masyarakat pesisir. Setiap ritme, cengkok dendang, dan pola tabuhan instrumen tradisional dipelajari secara saksama. Pengalaman kultural hasil observasi, diadopsi direkontekstualisasikan, dan dieksplorasi lebih jauh ke dalam sebuah konsep pertunjukan yang utuh, segar, dan relevan dengan hari ini. Berlandaskan pada keterhubungan estetika masyarakat pesisir, Pucuk Pakis Ansambel menyadurkan keterhubungan antar masyarakat, masyarakat dengan alam laut dan darat, hingga keterhubungan dengan spiritualitas. Keseluruhan tersebut dihadirkan dalam varian nomor karya dalam rentetan sajian pertunjukan.
Sebagai sebuah ansambel yang tumbuh diakhir 2023, Pucuk Pakis berhasil meramu kekayaan bunyi pesisir tersebut menjadi sebuah komposisi baru yang memiliki kekayaan pesan dan kesan. Musik tradisional Melayu bersanding harmonis dengan pendekatan modern, menciptakan dialog musikal yang dinamis selama pertunjukan berlangsung. 
Upaya ini menjadi bukti nyata bahwa musik tradisi memiliki sifat yang dinamis untuk berkembang menjadi karya seni pertunjukan yang berdaya, sekaligus menjadi ruang edukasi mengenai kekayaan seni budaya lokal. Gelaran seni yang penuh energi dan nilai kultural ini telah sukses diselenggarakan pada hari Jumat, 31 Juli 2026. Mengambil tempat di Gedung Olahraga Paralimpik NPCI, pertunjukan berlangsung selama tiga jam penuh yang sarat akan pengalaman audio visual memukau. Menariknya, sajian panggung dihadirkan secara inklusif berbaur hingga dikelilingi para apresiator dengan seting layout yang unik. Area pertunjukan dihadirkan dengan tumpahan pasir yang selaras menghadap arah mata angin dari utara hingga selatan sebagai wujud representatif lokus pesisir dan kekayaan nilai budaya dari pantai utara hingga pantai selatan di Borneo Barat (Kalimantan Barat). Sajian pertunjukan juga diperkaya dengan berbagai seting artistik panggung yang unik serta media visual yang otentik dengan budaya pesisir Kalbar. Beberapa varian karya disajikan secara naratif hingga kolaboratif dengan pelaku tradisi, beberapa lainnya disajikan dengan pembaruan hingga bentuk nonkonvensinal. 
Pertunjukan diakhiri dengan penuh kesan dari interaksi antara musisi dan apresiator yang saling terhubung melalui bunyi tubuh dan bernyanyi bersama. Melalui pergelaran Suara Pesisir Borneo Barat, Pucuk Pakis Ansambel menitipkan sebuah pesan penting tentang urgensi pelestarian budaya melalui jalan kreativitas dan inovasi, kemudian menjembatani relevansi nilai tradisi sebagai tunjuk ajar yang tetap relevan di masa kini. (*)
|