Cerita Kota

Rumah Betang, Warisan yang Tak Pernah Hilang

11 Juli 2026

106 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

MENYUSURI BORNEO | Hidup bersama dalam satu atap panjang, teras yang membentang, menjadi tempat orang-orang berbincang, sesuai dengan namanya, Rumah Betang. Di sanalah kehidupan masyarakat Dayak Desa masih bertahan, di Kalimantan Barat, tepatnya Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang.

Ketika banyak orang memilih hidup di balik pagar rumah masing-masing, puluhan warga di Ensaid Panjang masih berbagi ruang, waktu, dan keseharian dalam satu rumah yang telah diwariskan turun-temurun.

Bagi masyarakat Dayak Desa, rumah ini menjadi ruang untuk merawat kebersamaan, gotong royong, sekaligus menjaga warisan leluhur yang telah bertahan selama ratusan tahun. Dari anak-anak yang bermain di ruai, para perempuan yang menenun, hingga para tetua yang berkumpul untuk bermusyawarah, hampir seluruh aktivitas sehari-hari berpusat di rumah panjang ini.

Namun, usia tak pernah bisa dilawan.

Kayu-kayu yang selama puluhan tahun menopang rumah perlahan mulai lapuk. Lantai yang dahulu kokoh tak lagi mampu menahan beban seperti semula. Bahkan, pernah terjadi seorang penghuni terperosok karena lantai yang rapuh.

"Bu Puan datang ke sini melihat kondisinya sudah tidak layak. Kayunya sudah banyak yang lapuk," tutur Kepala Dusun Rentap Selatan, Ricardus Sembay. Ia mengenang saat Puan Maharani, Ketua DPR RI berkunjung dan menginisiasi renovasi untuk rumah betang mereka.

Rumah Betang Ensaid Panjang bukanlah bangunan yang sejak awal berdiri menetap di satu tempat.

Sejak masyarakat Dayak Desa menetap di kawasan ini sekitar dua abad lalu, rumah betang telah beberapa kali dipindahkan dan dibangun kembali. Perpindahan dilakukan ketika sebagian besar struktur bangunan mulai rapuh dimakan usia. Tiang-tiang utama yang masih kokoh tetap dipertahankan, sementara bagian lainnya diganti.

Menurut Ricardus Sembay, renovasi tahun 2024 menjadi salah satu pembaruan terbesar yang pernah dilakukan.

Atap rumah kini berbeda dari sebelumnya. Struktur yang mulai lapuk diganti, sementara pengerjaannya melibatkan sekitar seratus tukang. Atap kembali menggunakan sirap kayu, mempertahankan bentuk tradisional yang telah diwariskan sejak lama.

Meski banyak bagian diperbarui, ada aturan adat yang tetap dijaga. Sebagian besar struktur menggunakan kayu belian yang terkenal kuat dan tahan lama. Namun jika atap dan tiang sudah menggunakan kayu belian, maka lantai tidak boleh menggunakan kayu belian juga. 
Sudah menjadi petuah orang dulu,” ucap Sembay saat ditanyai alasannya mengapa.



Rumah sepanjang sekitar 118 meter itu memiliki ruang-ruang yang masing-masing menyimpan fungsi tersendiri. Bagian paling depan disebut padung, yaitu teras tempat orang datang dan berkumpul sebelum memasuki rumah. Memasuki bagian dalam, terdapat ruai, ruang bersama yang memanjang tanpa sekat dari ujung ke ujung rumah. Di sinilah warga bermusyawarah, menerima tamu adat, hingga melaksanakan berbagai kegiatan bersama. Di belakangnya terdapat teluk, area yang lantainya sedikit lebih rendah dan digunakan untuk menyimpan berbagai peralatan rumah tangga maupun perlengkapan menenun.

Sementara ruang-ruang keluarga dipisahkan menggunakan dinding kayu sederhana, menciptakan batas privasi tanpa menghilangkan rasa hidup bersama.

Di setiap pintu keluarga berdiri sebuah tiang utama yang disebut tiang penun. Tiang ini bukan sekadar penyangga bangunan. Ia menjadi simbol kehidupan setiap keluarga yang tinggal di dalam rumah betang.

Membangun rumah betang juga selalu diawali dengan berbagai ritual adat. Milania Libau, salah seorang penenun di Ensaid Panjang, menceritakan bahwa masyarakat Dayak Desa mengenal ritual betenung, sebuah prosesi untuk menentukan siapa yang akan menjadi tetua rumah betang.

Prosesi dilakukan menggunakan telur ayam, jarum, dan berbagai perlengkapan ritual lainnya. Setelah doa dipanjatkan selama berjam-jam, hasil ritual dipercaya memberikan petunjuk mengenai sosok yang akan memimpin kehidupan di rumah betang.

Sebelum pembangunan dimulai, masyarakat juga menyiapkan berbagai keperluan adat, mulai dari pembuatan tuak hingga penyediaan hewan kurban seperti ayam, babi, dan sapi. Puncak prosesi dilakukan ketika tiang pertama atau tiang penun ditancapkan sebagai penanda dimulainya pembangunan rumah.

Persiapan membangun rumah betang bahkan dapat berlangsung selama bertahun-tahun. "Bisa sampai lima tahun hanya untuk mempersiapkan semua bahannya," ujar Milania.

Sejarah rumah betang sendiri lahir dari kebutuhan masyarakat untuk hidup aman. Pada masa lalu, hampir setiap komunitas Dayak tinggal bersama dalam satu rumah besar sebagai bentuk perlindungan dari binatang buas maupun perang antarsuku.

Tradisi hidup komunal itu terus bertahan bahkan setelah konflik antarsuku berakhir pada akhir abad ke-19. Bagi masyarakat Ensaid Panjang, rumah betang tidak pernah kehilangan maknanya.

"Hutan dan rumah betang harus berjalan searah, berdekatan, seperti kopi dan gula," tutur Milania. Kalimat sederhana itu menggambarkan hubungan yang tidak terpisahkan antara manusia, rumah, dan hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka. (*)


*Artikel ini ditulis sebagai bagian dari kolaborasi Pontinesia dalam Co-Reporting Katadata Green: Menggali Potensi Bioekonomi Kabupaten Sintang untuk Indonesia


Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top