Cerita Kota

Andri Lie Brothers: Keliling Indonesia dari Dapur ke Jalan Raya

26 Desember 2024

657 views

Kontributor :
Mia Islamidewi
@miaislmdw
Kontributor :
Mia Islamidewi
@miaislmdw

Akar perjalanan ini adalah sebuah buku. Chef Billy Kwong tidak hanya meramu rasa, tapi juga dapat memikat dari tulisan yang saya temukan pada bukunya. Billy, yang lahir dan besar di Australia, memutuskan untuk kembali ke kampung halaman orangtuanya di China untuk memahami lebih dalam tentang masakan tradisional mereka. Ia melakukan perjalanan keliling pelosok China, mencicipi aneka hidangan sekaligus menggali cerita di baliknya.

Sebagai seorang yang juga bekerja di ruang racik menu sebuah restoran, terasa ada panggilan untuk melakukan hal serupa. Di tanah kelahiran saya, Indonesia, bagaimana bisa mengabaikan ragam kuliner kaya dari Sabang hingga Merauke itu? 

Keinginan ini membawa saya membentuk tekad besar memulai perjalanan, yang bukan hanya sekadar soal makanan, tapi juga pesan-pesan sejarah, budaya, dan cerita yang terkandung di balik setiap hidangan dan aktivitas masyarakat lokal.

Dalam kelana, warung-warung dan dapur warga adalah arena eksplorasi saya. Menerima titah langsung dari empunya dapur tentang apa saja yang perlu ditambahkan dalam hidangannya. 

Waktu di Samosir, warung bernama Orangta jadi ruang belajar saya. Di sana membuat langsung masakan khas berupa ikan arsik yang mirip dengan ikan asam pedas, ada juga ikan tombur yang dibakar, dan tak lupa naniura. Sashimi orang batak ini biasanya dari ikan mas, dimakan mentah, dengan proses melumuri ikan segar menggunakan air asam dari perasan jeruk dan bumbu-bumbu yang membuat ikan jadi lunak.

Tak ketinggalan, perjalanan solo riding di tanah Sumatera ini juga membawa rasa cinta terhadap bumbu kebanggaan tanah Batak, andaliman. Ia setia mewarnai hampir tiap menu masakan khas batak. 

Perjalanan bermotor sendiri ini telah membawa saya ke 20 provinsi. Tahun 2023 lalu perjalanan selama lima bulan membawa saya dan motor ini berkelana di Indonesia Timur, tepatnya Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Tahun ini giliran Sumatera, sejak Agustus hingga Desember. 

Jika bisa diminta memilih satu, saya mendaratkan pilihan kepada tanah Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai yang paling berkesan. Bagi saya, tiap sisi NTT menyimpan cerita yang membekas. Pesona bentangan savana yang luas bersyahdu dengan kuda-kuda yang berlarian bebas. Di sisi lain, saya juga merasakan keadaan pahit atas akses air bersih yang sulit.

Saya melihat langsung bagaimana masyarakat harus menempuh jalan jauh, berjam-jam, untuk air bersih. Di Kupang, Rote, Alor, dan Timor, mereka menghabiskan waktu dan tenaga yang besar demi memenuhi kebutuhan air bersih. Ini adalah bagian perjuangan yang mungkin tak banyak orang tahu, dan itu meninggalkan kesan mendalam.

Saat yang sama, keberagaman budaya di NTT sangat mengesankan. Di beberapa desa, saya bertemu dengan suku-suku yang beragam, hidupnya berdampingan meskipun memiliki bahasa dan adat yang berbeda. Secara langsung saya merasakan kekayaan Indonesia, dan saya semakin menghargai setiap perbedaan yang ada.

Sangat jelas, perjalanan solo riding ini penuh tantangan. Namun, saya selalu berbekal percaya bahwa tantangan terbesar bukanlah masalah teknis pada motor, seperti ban bocor atau kampas rem yang habis, misalnya. Tantangan yang lebih besar adalah mengalahkan rasa takut, lelah, dan kadang rasa putus asa yang datang begitu saja.

“Sebenarnya, tantangan terbesar adalah diri kita sendiri.” 

Pernah saya jatuh saat menuju surga di atas awan, Waerebo. Tangan terluka, juga terkilir, namun saya tetap melanjutkan perjalanan hingga menjejakkan kaki di desa yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut itu. Setelahnya baru saya pulang ke Pontianak. Jika saat itu saya menyerah, saya pasti dihantui penyesalan amat besar.

Sambil menjelajah, saya tak lupa mengabadikan setiap momen dalam bentuk konten video. Mulanya, hanya sesederhana ingin menyimpan kenangan untuk dilihat kembali nanti. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa banyak orang yang merasa terhubung dengan gambar dan perjalanan yang saya tangkap. Kini, konten-konten tersebut tidak hanya menjadi simpanan pribadi, tetapi ternyata memberi inspirasi dan melahirkan interaksi bersama pengguna dunia maya.

Faktanya membuat konten sambil berkendara bukanlah hal yang mudah. Sudahlah motoran sendiri, bikin konten pula, belum lagi harus istirahat untuk perjalanan besok bisa tetap prima.

Untuk merekam momen-momen dalam perjalanan, saya mengandalkan tripod dan keterampilan mengatur kamera. Berhenti, setting angle, ulangi. Meski acap kali kelelahan, saya tetap berusaha agar momen-momen penting bisa abadi dalam rekaman. Kadang, karena kelelahan, ada banyak momen yang terlewat, tetapi itulah bagian dari perjalanan.

Tetapi kunci yang saya pegang untuk menjaga tubuh tetap fit adalah istirahat yang cukup, harus tidur sebelum tengah malam, makan, dan minum air sesuai kebutuhan tubuh.

Bagi saya, solo riding bukan hanya tentang perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan jiwa. Mengajarkan tentang diri sendiri. Bagaimana bersikap, berbicara, beradaptasi, dan mengendalikan emosi. Solo riding mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru dan orang-orang yang berbeda.

Besar kepercayaan saya pada filosofi gelas kosong. Ke mana pun kita pergi, kita harus siap mengisi gelas itu dengan pengalaman baru. Setelah itu, kosongkan lagi, agar kita bisa menerima pengalaman berikutnya. Begitulah bagaimana saya menuntaskan 20 provinsi dan kembali ke Pontianak akhir tahun 2024 ini.

Ke mana pun saya berkendara dalam kelana, saya selalu merindukan keluarga dan teman-teman saya di Pontianak. Kalau di rumah, saya bisa bermain dengan keponakan-keponakan, ngopi dengan teman-teman, sambil makan pisang goreng di Gajah Mada. Kuliner Pontianak yang selalu membuat saya rindu, tak pernah bisa tergantikan.

Papua dan Harapan Baru

Menutup 2024 sekaligus menutup lembar perjalanan saya dari tanah Sumatera, selanjutnya saya punya rencana besar. Jika pengajuan dapat dukungan, saya berniat melanjutkan perjalanan ke Papua pada 2025. Perjalanan ini akan membawa saya dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan akhirnya Papua. 

Perjalanan ini telah mengubah kacamata bagaimana saya melihat dunia. Dulu, mulanya sekadar hanya ingin memahami masakan Indonesia, namun kini saya menyadari bahwa perjalanan ini juga adalah pencarian makna yang lebih dalam tentang hidup, budaya, dan keberagaman. Setiap perjalanan yang saya tempuh, tidak hanya mengumpulkan memori dan pengalaman, tetapi juga mengajak saya untuk menghargai setiap sudut Indonesia yang kaya akan cerita dan rasa. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top