Cerita Kota

Emas yang Mengubah Hidup Nasabah Pegadaian

27 September 2025

462 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

Bagi Arlis, emas bukan sekadar perhiasan atau simpanan, melainkan pintu yang membuka jalan hidup baru. Dari garasi rumah sederhana, ia bisa pindah ke toko di tepi jalan berkat hasil jual emas simpanannya. Kini, lewat aplikasi digital Pegadaian yang kian mudah diakses, emas tak hanya menjadi tabungan, tapi juga sahabat setia yang ikut menopang usaha dan mimpinya.

Arlis, seorang pengusaha butik di Pontianak dengan merek dagang @shesiera_pontianak, rutin membeli logam mulia di Pegadaian dan perhiasan sebagai pendamping tabungan bank sejak 2013. Keputusannya terbukti tepat. Ketika ingin membuka toko di tepi jalan besar pada 2018, emas simpanannya dijual dan menjadi modal tambahan. 

"Buka toko di depan gang hasil jual emas, sebelumnya (jualan) di garasi rumah dalam gang," ceritanya, Sabtu (27/9/2025).

Dua tahun berselang, ia membuka rekening di Pegadaian. Ia berusaha menabung minimal sekali sebulan. Namun kerap terputus karena harus datang ke cabang. Semua berubah sejak 2023, seorang teman membawa kabar bahwa Pegadaian sudah memiliki aplikasi.  

"Semenjak itu, jadi mulai aktif beli (emas) karena lebih gampang. Bisa kapan pun," ujarnya.

Kini, tabungan emas yang sebelumnya hanya pendamping, justru menjadi pilihan utama. Uang tunai hanya dipakai untuk operasional dan sirkulasi toko. Sementara emas dijadikan pegangan saat butuh modal besar jelang lebaran. 

"Belakangan pakai sistem gadai, karena makin ke sini limitnya juga makin besar," ungkapnya. 

Ia pun sempat merasa menyesal lantaran baru beberapa tahun terakhir melek informasi investasi emas. Padahal jika rutin saja menabung saat harga masih ratusan ribu, keuntungan jangka panjangnya sudah berkali-kali lipat.

"Coba dari zaman dulu sudah simpan dalam bentuk emas, saat harganya masih ratusan ribu. Sekarang dengan harga dua jutaan," ujarnya sambil tertawa.

Cerita serupa datang dari Nia. Seorang pengusaha kerupuk basah dan seller shopee yang juga menjual produk olahan buah kering di Pontianak. Usahanya tak selalu ramai. Ada waktu pesanan begitu banyak, seperti momentum lebaran, natal dan libur panjang. Namun ada saat pesanan melandai. Ketika itulah, ia menggadai tabungan emas digitalnya untuk menambah modal. 

“Karena prosesnya cepat dan selesai hanya di aplikasi, mudah sekali,” cerita owner @kerupukbasahsidak.ulu dan @bermadu.id ini.

Ia memang rutin memanfaatkan tabungan emas Pegadaian sejak tahun 2020. Sebelumnya ia pernah menyicil emas. Namun malah degdegan ketika hasilnya sudah ada di tangan. Selain itu, keputusannya menabung emas, turut disebabkan kesadaran diri karena kerap impulsif saat memegang uang.

“Setiap ada uang lebih, pengennya jalan-jalan. Jadi tabungan emas ini memang sarana penyimpanan duit yang lebih aman,” katanya sambil tertawa.

Semenjak memiliki tabungan emas Pegadaian, Nia pun merasa jauh lebih aman. Ia tak khawatir uangnya habis tak bersisa. Demikian soal usaha, ada suntikan modal, lewat barang yang memang menjadi miliknya. 

Intervensi Literasi Investasi

Upaya Pegadaian mengEMASkan Indonesia makin terasa sejak adanya layanan digital Pegadaian. Pemimpin Cabang Pegadaian Syariah Ahmad Yani Pontianak, Sugiyanta bercerita, transformasi digital ini turut mengubah demografi nasabah. Dari yang sebelumnya didominasi generasi tua, kini turut diramaikan anak muda.

"Kami tetap mendampingi nasabah-nasabah (yang lebih tua) ini. Kami jelaskan untuk transaksi bisa melalui aplikasi, namun memang mereka masih nyaman datang langsung," jelasnya.

Ia menanamkan betul Pegadaian BRILiaN Ways dalam budaya kerja mereka. Setiap nasabah memiliki hak yang sama, termasuk dalam menerima edukasi. Pihaknya pun turut menjalankan program Pegadaian Mengajar di empat sekolah tahun ini, yakni di SMAN 6 Sungai Raya, SMAN 3 Sungai Kakap, SMKS Panca Bakti, dan SMAS Bhayangkari. Termasuk di dalamnya kepada segmen tertentu yang menjadi target mereka.

Upaya #mengEMASkanIndonesia itu terlihat nyata. Hingga September 2025, jumlah nasabah bertambah 227 orang dibanding tahun lalu, dengan penjualan emas mencapai 22 kilogram.

"Biasanya kendala orang karena belum teredukasi. Setelah dijelaskan, mereka mulai paham bahwa emas relatif aman untuk investasi jangka panjang," katanya.

Meski tak ada yang bisa menjamin keuntungan pasti, tren harga emas yang terus menanjak membuatnya tetap menjadi primadona. Hal ini selaras dengan temuan dalam survei Pola Penggunaan Produk Investasi yang dirilis Lembaga Survei KedaiKOPI tanggal 11 Maret 2025 lalu. Dari 900 responden se Indonsia, emas menjadi top of mind ketika ditanya perihal investasi. 

Menariknya, penelitian Monami Dasgupta (2022) tentang tabungan emas mikro di India menegaskan betapa emas memiliki fungsi yang berlapis. Emas memiliki banyak fungsi: sebagai aset, investasi, jaminan keamanan, instrumen yang bisa digadaikan, sekaligus perhiasan. Hal ini sejalan dengan pengalaman Arlis dan Nia di Pontianak, yang menjadikan emas bukan hanya simpanan, melainkan juga modal usaha dan pegangan saat membutuhkan dana mendesak.

Studi tersebut juga menemukan bahwa emas, terlebih dalam bentuk tabungan digital, mampu menjadi sarana menabung yang konsisten dan adaptif. Sama seperti aplikasi Tring! dari Pegadaian, produk emas digital terbukti efektif ketika dirancang mengikuti aliran kas masyarakat, sehingga menabung bisa dilakukan dengan nominal ringan namun teratur. 

Cerita Arlis dan Nia di Pontianak memiliki benang merah sama, emas bukan cuma perhiasan, namun juga tabungan yang bisa menjadi modal usaha, jaminan darurat, yang membantu menggapai mimpi nasabahnya. Kemudahan dalam layanan Pegadaian Digital plus literasi investasi yang dilakukan, turut membawa kebiasaan berinvestasi makin dekat dengan keseharian masyarakat. 

Perubahan Pola Investasi

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tanjungpura, Djunita Permata Indah mengatakan sejatinya investasi emas sudah dilakukan masyarakat Indonesia sejak dulu. Hanya saja dalam bentuk perhiasan, kemudian logam mulia. Munculnya terobosan menabung emas dari beragam aplikasi atau platform, membawa perubahan dalam pola investasinya.

"Ini yang bikin semua kalangan sudah bisa diversifikasi investasinya tanpa harus memulai dalam jumlah besar seperti zaman dulu, ketika beli dalam bentuk perhiasan dan emas batangan," katanya.

Keberadaan media sosial pun turut berpengaruh. Informasi soal emas, dibicarakan di sana-sini. Terlebih soal kenaikan harganya. Hal ini yang membuat orang mudah terpapar dan akhirnya ikut-ikutan.

"Bisa jadi memang ada FOMO-nya, tp secara global memang minat terhadap emas itu ada kenaikan," sebutnya.

Ia pun mengatakan ada sejumlah cara yang bisa diterapkan untuk mendukung program mengemaskan Indonesia, agar orang-orang tidak sekadar ikut-ikutan. Paling penting, soal edukasi. Harus dijelaskan bagaimana pola dan plus-minus investasi emas. Hal sama yang kini terus dijalankan Pegadaian lewat semua cabangnya.

"Yang perlu diingat, menabung emas itu menabung yang sifatnya jangka panjang, sehingga harga jual dan harga beli harus selalu diperhatikan agar tidak rugi," sebutnya.

Djunita pun menerangkan, saat ini ada banyak instrumen investasi lain seperti saham, kripto, dan reksa dana. Setiap instrumen tersebut punya keunikannya masing-masing.

"Diversifikasi investasi itu penting untuk dilakukan. Dan overall, emas itu save haven ketika secara ekonomi kita harus dihadapi dengan inflasi dan ketidakpastian kondisi geopolitik," tutupnya. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top