Cerita Kota

Film Pendek “Amoth” dari Sanggau Raih Penghargaan Festival Film Internasional

4 Oktober 2025

548 views

Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id
Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id

CERITA KOTA | Sebuah film pendek garapan anak muda Sanggau berhasil menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Film berjudul “Amoth: Ritual Adat Nyeser” meraih penghargaan Honorable Mention: Original Story dalam ajang Kalimantan International Indigenous Film Festival (KIIFF) 2025 yang berlangsung di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Film ini diproduksi oleh KiliKulu Films, komunitas film independen yang beranggotakan anak muda Sanggau dengan visi mengangkat narasi lokal ke layar yang lebih luas. Mereka percaya bahwa kisah dari kampung, hutan, dan sungai memiliki kekuatan untuk menginspirasi, sekaligus menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam.

“Penghargaan ini kami persembahkan untuk masyarakat Dusun Syam, para tetua adat, serta anak muda yang menjaga tradisi tetap hidup. Bagi kami, ritual Nyeser bukan sekadar tontonan, tetapi peta untuk merawat tanah, air, dan sesama,” ungkap Muhammad Aqil Noviandri, sutradara Amoth.

KIIFF 2025 sendiri digelar pada 16–20 September di Palangka Raya, menghadirkan pemutaran publik di Cinema XXI Palma, panel diskusi, lokakarya, serta program komunitas dengan tema Preserving Indigenous Ecological Knowledge. Ajang ini menjadi ruang bagi sineas dari berbagai daerah dan negara untuk merayakan sekaligus merawat kearifan masyarakat adat.

Berlatar di Sanggau, film Amoth mendokumentasikan ritual adat Nyeser dari masyarakat Dayak Taba. Ritual ini merupakan persembahan sakral kepada roh penjaga bernama Amoth, yang dipercaya melindungi panen agar terhindar dari gangguan. 

Lewat kamera, penonton diajak masuk ke tengah komunitas—menyaksikan bagaimana perajin, anak muda, dan para tetua menyiapkan setiap detail upacara. Gestur, doa, dan keheningan dalam film ini memperlihatkan betapa eratnya hubungan masyarakat dengan hutan, ladang, dan kehidupan sehari-hari.

Aqil menambahkan, film ini berangkat dari keyakinan bahwa spiritualitas bukan hanya hadir dalam ritual, melainkan juga dalam keseharian. 

“Bayangan Amoth ada dalam pikiran mereka, membentuk rasa takut sekaligus tanggung jawab untuk menjaga hutan dan panen. Itu yang ingin saya hadirkan dalam film,” jelasnya.

Keberhasilan Amoth di KIIFF menjadi bukti bahwa karya lokal Kalimantan mampu bersuara di panggung internasional. Lebih dari sekadar pencapaian sinematis, film ini mengingatkan bahwa tradisi adat bukanlah peninggalan masa lalu, melainkan peta pengetahuan ekologis yang masih relevan untuk hari ini.

Dengan prestasi ini, anak muda Sanggau tak hanya menghidupkan tradisi melalui film, tetapi juga mengajak dunia melihat bagaimana kearifan lokal bisa menjadi kunci menjaga harmoni antara manusia dan alam. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top