Cerita Kota

Jalan Sunyi Seorang Tatung Muda Pontianak

14 Februari 2026

99 views

Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id
Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id

CERITA KOTA | Di sebuah gang yang tak jauh dari riuh Jalan Tanjungpura, Pontianak, ada kisah yang tumbuh pelan-pelan. Bukan tentang panggung megah Cap Go Meh. Bukan pula tentang sorak penonton. Tapi tentang sakit, mimpi, dan jalan sunyi yang dipilih seorang perempuan muda.

Namanya Adelia Dwi Anggraini. Usianya baru 21 tahun.

Sehari-hari, Adelia bekerja sebagai admin toko. Rutinitasnya sederhana: mencatat stok, melayani pelanggan, lalu pulang ke rumah. Ia seperti anak muda lain di Pontianak—bekerja, bercita-cita, dan menjalani hidup dengan langkah biasa.

Namun sejak 2023, hidupnya berjalan ke arah yang tak banyak dipilih generasi seusianya. Ia menjadi tatung.

Antara Sakit dan Isyarat

Semua bermula bukan dari keyakinan, melainkan dari tubuh yang terus jatuh sakit. Hampir setahun Adelia berobat. Hasilnya nihil. Keluarga pun mencoba mencari penjelasan lain.

Mereka mendatangi seorang tatung senior. Jawaban yang datang bukan soal medis, melainkan soal “warisan”.

“Ada yang bilang ini turunan dari nenek,” ujar Adelia pelan saat ditemui di rumahnya, Sabtu (14/2/2026).

Awalnya ia ragu. Menjadi tatung bukan pilihan ringan. Apalagi di usia 21 tahun, ketika teman-temannya sibuk merancang masa depan dengan versi masing-masing.

Namun keraguan itu perlahan berubah menjadi penerimaan. Mimpi-mimpi yang datang berulang, pengalaman batin yang tak bisa dijelaskan, membuatnya percaya bahwa jalan ini bukan sekadar kebetulan.

Lebih dari Sekadar Atraksi

Di mata banyak orang, tatung identik dengan atraksi ekstrem saat Cap Go Meh—tubuh yang tampak kebal, ritual sakral, arak-arakan naga, dan sorotan kamera.

Namun bagi Adelia, inti menjadi tatung justru terletak pada disiplin yang tak terlihat.

“Saya harus bervegetarian. Ada pantangan makanan,” katanya.

Bukan hanya soal makan. Ia juga menjaga ucapan, perilaku, dan emosi. Semua dijalani sebagai latihan batin.

“Lumayan sulit, tapi ini memang sudah jalan saya,” ujarnya.

Peran ini, menurutnya, bukan tentang tampil di depan publik. Ia lebih banyak belajar dalam diam, membantu keluarga dan lingkungan terdekat. Belum melayani masyarakat luas.

Tradisi yang Tetap Bernyala

Tradisi tatung telah lama menjadi bagian dari identitas budaya Tionghoa di Kalimantan Barat. Ia bukan sekadar ritual, melainkan simbol penghormatan kepada leluhur dan keyakinan spiritual yang diwariskan lintas generasi.

Di tengah modernitas dan gaya hidup yang serba cepat, kehadiran tatung muda seperti Adelia menjadi penanda bahwa tradisi tak selalu usang. Ia bisa tumbuh di tangan generasi baru.

“Bangga lah, kita bisa melestarikan budaya kita,” ucapnya.

Adelia tak berbicara tentang ambisi besar. Ia hanya ingin menjalani perannya dengan lebih matang.

“Kalau diberi jalan, saya ingin,” katanya singkat.

Di usia yang masih sangat muda, Adelia sedang menapaki jalan yang tak banyak dipilih. Jalan yang hening, penuh disiplin, dan sarat makna.

Di antara riuh Pontianak yang terus bergerak maju, ada nyala kecil yang ia jaga—warisan leluhur yang tetap hidup dalam diri generasi hari ini. (*)




Top