Cerita Kota

Menafsir Kabung, Merawat Kisah Hari Esok

24 Desember 2025

180 views

Kontributor :
Dhiah Wiyarsih
@dhivvysh
Kontributor :
Dhiah Wiyarsih
@dhivvysh

CERITA KOTA | Apa yang terlintas ketika mendengar kata "kabung"?

Beberapa orang mengartikannya dengan situasi berduka. Lalu bagaimana dengan pulau yang diberi nama Kabung? Apakah pulau ini lahir karena peristiwa yang membawa kedukaan?

Pulau kecil di Kabupaten Bengkayang ini nyatanya tak lahir dari peristiwa duka. Penduduk asli yang mayoritas terdiri dari masyarakat Suku Bugis asal Sulawesi, menyebutkan jika kata kabung dapat berarti gabung, yang merepresentasikan pulau ini sebagai tempat kumpul masyarakat multietnis. Ada juga yang menyebutkan Kabung adalah titik kumpul atau tempat berkumpul masyarakat Suku Bugis yang merantau ke Kalimantan Barat.

Meskipun sempat dikenal sebagai salah satu destinasi wisata serta wilayah pemasok sotong di Kalimantan Barat, nyatanya tak banyak orang yang benar-benar mengetahui keberadaan pulau ini.  Jumlah penduduk yang semakin berkurang karena tuntutan perkembangan zaman, perlahan membuat pulau ini kian sepi.

Di penghujung tahun 2025, Susur Galur memperkenalkan Pulau Kabung dengan lebih dalam di Kota Pontianak. Gusti Enda, koordinator sekaligus seniman dari proyek seni ini mengungkapkan bagaimana pameran ini bertujuan untuk menerjemahkan pengetahuan tak tertulis masyarakat Kabung ke dalam bentuk pameran seni kontemporer.

"Proyek seni "Kabung dan Upaya yang Melampaui Esok" bukanlah dokumentasi, ini adalah alih wahana. Kami mengambil energi hidup dari sebuah pulau, kebudayaan maritim, ritme kerja domestik, tekanan ekonomi hingga siklus ekonominya, kemudian menafsir dan mentransmisikan praktik-praktik tersebut menjadi energi dalam karya seni, seperti instalasi genetik, kriya, tekstil, objek temuan, dan Cin(E)-poetry" ujar Enda.

Terdapat dua ruangan yang menampilkan instalasi yang berbeda. Saat masuk ke ruangan pertama, lampu-lampu menyoroti kain-kain batik eksperimental dan kisah perjalanan Enda dan kolaborator di Pulau Kabung. Batik-batik tersebut dibuat dari hasil alam dari Pulau Kabung, yakni tinta sotong dan beberapa pewarna alami seperti kayu secang, kulit atau ranting pohon mangrove, daun pohon ketapang dan buah manjakani kering.

Di ujung ruangan, terdapat penampilan narasi visual mengenai hubungan manusia, laut, dan waktu yang terus berubah. Layar besar dan suara yang sengaja dibuat memenuhi ruangan memungkinkan para pengunjung tetap mendengar dan meresapi narasi saat menyusuri area pameran.

Sementara di ruang selanjutnya, terdapat instalasi bagan tancap yang menunjukkan perpaduan teknologi lintas generasi, memperlihatkan bagaimana masyarakat Kabung menangkap hasil laut selama ini. Pondok yang mengapung di atas lautan dengan jala menjuntai ke bawah, semakin dibuat nyata dengan adanya proyeksi video mapping laut yang bereaksi dengan sensor gerakan.

Perjalanan Enda bersama para kolaborator selama beberapa bulan di Pulau Kabung tak hanya untuk mengenalkan potensi alam semata, tetapi juga untuk melestarikan dan menjaga kehidupan di Pulau Kabung. Eksplorasi karya seni yang memanfaatkan sumber daya alam setempat bertujuan untuk membuka pandangan baru, baik bagi masyarakat Pulau Kabung maupun Kalimantan Barat, terkait potensi yang masih belum terlihat dan ditelusuri lebih dalam.

Pameran ini diadakan selama seminggu penuh, mulai dari tanggal 23 - 29 Desember 2025 di Port 99 Pontianak dan terbuka untuk umum. Selain pameran terbuka, juga akan diadakan dua acara lainnya, yakni Kalimantan Method serta Workshop Batik Cap dan Pewarna Alam di akhir pekan terakhir di bulan ini. (*)

Foto oleh Susur Galur & @arasyahh.a

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top