Menjaring Tutur, Mengidupkan Tradisi
20 September 2025 |
377 views |
CERITA KOTA | Apa jadinya bila rahasia masa lalu yang lama terpendam kini bersuara lewat karya, menjelma nilai yang hidup kembali di tengah kita? Sebanyak 20 seniman muda Pontianak kembali menghidupkan tradisi lisan melalui pameran Menjaring Tutur di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak, 20-21 September 2025.
Program seni ini menampilkan karya visual tanpa batas, berbasis tradisi lisan Kalimantan Barat. Mereka mengungkap legenda, mitos, cerita rakyat, serta harapan-harapan para nenek moyang yang diturunkan secara bergenerasi. Kegiatan ini memadukan suasana kearifan lokal dengan nuansa sejarah yang menyatu dalam setiap rangkaian acaranya. Menjaring Tutur merupakan hasil kerja sama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII KalBar, dikoordinasi oleh Direktur Program, Syech Nauval Salsabil Saman dan dikuratori oleh Hera Yulita. Dari Juli 2025, program ini telah menyiapkan seluruh proses untuk acara puncak, dimulai open call volunteer, seniman, lokakarya untuk mendampingi dan mengurasi hasil seni. 
“Gol utamanya adalah pameran ini, tapi lebih jauh, kami ingin mengangkat tradisi lisan Kalimantan Barat yang sebelumnya belum pernah terdengar, bahkan tidak tercatat di internet,” ungkap Nauval. Menariknya, agenda ini turut dilengkapi dengan artist tour. Para seniman menjelaskan karya mereka kepada pengunjung secara langsung dan membuka ruang dialog. Lebih dari sekadar pameran, Naufal menekankan bahwa tujuan utama Menjaring Tutur adalah edukasi. “Kami ingin bukan hanya audiens yang belajar, tetapi juga seniman dan panitia. Harapannya, setelah melihat karya-karya ini, pengunjung mendapat wawasan baru tentang tradisi lisan di Kalimantan Barat,” ujarnya. 
Jika Kawan Pontinesia mengunjungi acara ini, kita akan disajikan oleh penampilan tarian tradisional, bertemu dengan para seniman, dan menyaksikan berbagai jenis karya visual. Dimulai dari cerita Sungai Kapuas, mitos Pontianak, sejarah spiritual suku Dayak, legenda desa, hingga karya visual digital yang memanjakan mata. Acara ini mengingatkan kita bahwa cerita masa lalu tidak hanya sejarah yang usang dan terpendam. Melainkan cerita yang harus dirawat dan diperkenalkan dengan estafet waktu. Agar, Menjaring Tutur tidak hanya diabadikan selama dua hari, namun setiap hari di setiap generasi. (*) 
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|