Cerita Kota

Menulis dari Akar Budaya: Balai Bahasa Kalbar Rawat Bahasa Daerah Lewat Cerita Anak

5 November 2025

220 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat menggelar Lokakarya Finalisasi Produk Penerjemahan Buku Cerita Anak Berbahasa Daerah Tahun 2025 di Hotel Star, Jalan Gajah Mada, pada Rabu 5 November 2025.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam pelindungan dan pengembangan bahasa daerah melalui penerjemahan dan penyempurnaan buku cerita anak.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat, Dr. Uniawati, S.Pd., M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata implementasi program pengembangan dan perlindungan bahasa daerah.

Ia menekankan bahwa produk penerjemahan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai karya bahasa, tetapi juga bahan pendukung literasi anak sekolah yang memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal.

“Melalui buku cerita anak berbahasa daerah, kita ingin menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa dan budaya sendiri. Proses penerjemahan dilakukan dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia tanpa menghilangkan konsep budaya yang terkandung dalam cerita,” ujar Dr. Uniawati.

Dalam kegiatan yang diikuti oleh penerjemah, penelaah, ilustrator, serta narasumber ahli ini, peserta melakukan validasi akhir terhadap naskah buku yang akan diterbitkan dan diajukan untuk memperoleh ISBN. Tahun ini, terdapat 56 produk penerjemahan yang sedang disiapkan untuk diajukan ke ISBN. Sebelumnya, pada tahun 2023, telah diterbitkan 5 buku cerita anak yang dinyatakan layak dan telah didistribusikan ke 600 sekolah di Kalimantan Barat.

Salah satu narasumber, H. Nur Iskandar, turut menekankan pentingnya kaidah bahasa dalam penulisan cerita anak, khususnya dalam penggunaan bahasa Melayu Pontianak. Ia menyampaikan perlunya standar penulisan bahasa Melayu yang baku, agar produk sastra daerah memiliki pedoman yang jelas dan terjaga keasliannya.

“Pontianak perlu memiliki standar penulisan bahasa Melayu Pontianak. Misalnya, kata kamek seharusnya ditulis dengan apostrof menjadi kame’, bukan dengan huruf k di akhir. Hal-hal kecil seperti ini penting untuk menjaga keotentikan bahasa,” jelasnya.

Melalui lokakarya finalisasi ini, Balai Bahasa Kalimantan Barat berharap karya-karya yang dihasilkan dapat menjadi referensi literasi yang memperkuat pemahaman budaya daerah, sekaligus mendukung pengajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah. Buku-buku tersebut dirancang agar sesuai dengan karakter pembaca usia 10–12 tahun, sehingga nilai-nilai budaya dapat disampaikan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah di tengah arus globalisasi, serta memastikan bahwa generasi muda Kalimantan Barat tetap mengenal dan mencintai bahasa serta budaya leluhurnya. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top