Cerita Kota

Menulis Kehidupan Lewat Nada, Perjalanan Manjakani dalam Album Kedua

7 November 2025

297 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Setelah penantian panjang, Manjakani akhirnya resmi merilis album keduanya pada tahun ini. “Selamat Biru Samudra” menjadi tajuk utama dari karya terbaru mereka, sebuah potret kecil tentang perjalanan hidup setelah menikah, dengan segala pasang surutnya.

Album ini masih digarap bersama produser yang sama seperti album pertama, Ajung Mc Anderson, namun dengan proses yang lebih dekat secara emosional dan geografis.

Jika sebelumnya mereka harus terbang ke Jakarta untuk rekaman, kali ini seluruh proses dilakukan di Pontianak, menjadikan karya ini terasa lebih “rumah”, hangat, jujur, dan membumi.

Namun, inti dari album ini tidak hanya terletak pada detail teknisnya, melainkan pada kisah di balik setiap lagu. “Selamat Biru Samudra” adalah catatan kehidupan yang ditulis dalam melodi.

Setiap lagu lahir dari potongan keseharian: bagaimana cinta diuji, rumah dibangun, dan waktu berjalan bersama. Ada sepuluh lagu di dalamnya, tapi beberapa di antaranya paling kuat menggambarkan napas kehidupan yang mengalir sepanjang album.

“Selamat Biru Samudra”, lagu pembuka sekaligus judul album, menjadi simbol awal dari sebuah perjalanan. Ia bercerita tentang ajakan menikah, tentang keberanian memulai hidup bersama, dengan segala ketidakpastian yang menyertainya. Lembut, jujur, dan penuh harapan.

Lalu ada “Dunia Kecil”, yang mengambil sudut pandang seorang ibu. Lagu ini menggambarkan perubahan hidup setelah hadirnya si kecil: kelelahan, tawa, dan cinta yang tumbuh dengan cara baru. Di sini, Manjakani menulis bukan hanya sebagai musisi, tapi sebagai orang tua yang belajar setiap hari.

Sementara itu, “Rencana” menjadi ruang perenungan tentang masa depan anak, tentang kekhawatiran yang datang bersamaan dengan cinta yang besar. Melodinya tenang, namun mengandung beratnya pertanyaan yang sering muncul di kepala para orang tua.

Dan akhirnya, “Berserah” menutup perjalanan dengan nada yang sendu sekaligus menenangkan. Lagu ini bicara tentang menerima hidup apa adanya, tentang cinta yang tetap lembut meski harus menghadapi perpisahan. Sebuah penutup yang terasa seperti doa untuk terus berjalan, bersama, sampai waktu berhenti.

Secara musikal, album ini bergerak ke arah pop yang lebih terang dan melodius, berbeda dengan album pertama yang cenderung akustik dan gelap. Perubahan itu terasa alami, mengikuti pertumbuhan kisah hidup Manjakani sendiri. Mereka tidak lagi hanya bercerita tentang cinta yang baru tumbuh, tetapi tentang kehidupan yang sedang dijalani, dengan segala suka dan sedihnya.

Setiap lagu disusun berdasarkan alur nada dasar yang mengalir dari awal hingga akhir, menciptakan perjalanan emosional yang utuh, seperti hidup itu sendiri: berubah, bertumbuh, dan terus bergerak.

Rangkaian kisah ini pertama kali dibagikan kepada publik dalam sesi dengar perdana album kedua Manjakani yang digelar pada 4 November 2025 di Toko Kami Suhada, Pontianak. Dalam suasana akrab dan hangat, para pendengar diajak menikmati setiap lagu sembari mendengarkan cerita di balik pembuatannya.

Lebih dari sekadar peluncuran album, acara ini menjadi ruang berbagi antara Manjakani dan pendengarnya, tempat di mana musik, cinta, dan kehidupan bertemu dalam satu frekuensi yang sama: sederhana, jujur, dan penuh perasaan. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top