Cerita Kota

Meriam Karbit: Tradisi yang Menanti Takdirnya

25 Maret 2025

839 views

Kontributor :
Saatnya Data
@saatnyadata
Kontributor :
Saatnya Data
@saatnyadata

Pasang Surut Dentum Penanda Raya

SELASA DATA | Meriam karbit merupakan bagian dari sejarah panjang Kota Pontianak. Bermula dari tembakan pertama Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, hingga hari ini menjadi tradisi menyambut Idulfitri.

Meriam karbit adalah identitas dari tepian Kapuas. Jejak sejarah kota yang enggan terlupa.

Meriam dibuat dari kayu bengkirai, kelapa atau ramin berukuran 5-7meter dengan diameter kurang lebih 80 sentimeter.

Usai dibentuk dan dimainkan, tubuhnya kembali dipeluk Kapuas sampai hari raya berikutnya tiba. Perlu puluhan orang untuk membangunkannya kembali menyemarakkan kota.

Bagaimana jumlah peserta Festival Meriam Karbit di Pontianak dari tahun ke tahun?

Merujuk data da tahun 2016-2025, terdapat tiga kali penyelenggaraan festival yang jumlah meriamnya di bawah 200. Dua diantaranya terjadi dalam tiga tahun terakhir, termasuk pada tahun 2025 ini.

Mengapa? Setidaknya ada 2 faktor: Pertaman, pendanaan yang minim → biaya tinggi, kurang sponsor. Kedua, Sulitnya bahan baku → Kayu balok makin langka.

Untuk karbit saja, harga satu drumnya kurang lebih Rp3,5 juta. Bahkan, estimasi operasional per kelompok meriam karbit dapat mencapai 20 - 30 juta. Belum lagi tantangan mencari batang kayu untuk membuat meriam. Perkara biaya dan ongkos bawanya sudah tentu jadi soal.

Akankah tradisi ini tergerus waktu, menjadi kenangan tanpa pengalaman? Mimpi yang tak akan mungkin kita biarkan terjadi! Maka, sulut lagi meriammu, nyalakan kembali api itu!

Kita Jaga Dentum Penanda Raya di Khatulistiwa!

Simak SELASA DATA melalui Instagram @pontinesia 

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top