Cerita Kota

Milenial dan Gen Z Penentu Pemilu di Kalbar

13 Februari 2024

779 views

Kontributor :
Saatnya Data
@saatnyadata
Kontributor :
Saatnya Data
@saatnyadata

SAATNYADATA | Mungkin artikel ini terlambat, tapi inilah kekuatan yang harus kita optimalkan!

Kamu, Milenial dan Gen Z akan jadi penentu pemilu di Kalbar. Suara kalian mendominasi jumlah pemilih dari total 3.958.561 orang di Kalimantan Barat. Persentasenya 60,86 persen.

Jika dirinci, berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum Kalbar via Litbang Kompas, suara paling besar adalah Milenial (kelahiran 1981-1996) dengan persentase 35,49 persen atau 1,4 juta pemilih. Disusul Gen X (kelahiran 1965-1980) sebanyak 26,23 persen atau sekitar 1 juta pemilih.

Gen Z (kelahiran 1997-2012) menempati urutan ketiga dengan persentase 25,37 persen atau sekitar 1 juta orang. Selebihnya 11,65 persen atau 461.116 orang merupakan pemilih baby boomer (kelahiran 1946-1964). Dan sisanya 1,26 persen atau 49.879 pemilih berasal dari kategori pre-boomer (kelahiran sebelum 1945).

Lalu, mengapa justru Milenial dan Gen Z yang disebut di awal?

Alasannya ada pada karakter dan akses terhadap informasi. Dari hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dengan target sampel 17-39 tahun, menunjukkan Milenial dan Gen Z lebih tertarik pada isu-isu kebijakan domestik dan global, seperti isu kesehatan, lingkungan, ketenagakerjaan, demokrasi, dan pemberantasan korupsi.

Selain itu, yang membuat kalian berbeda adalah perilaku digital. Penetrasi internet dan medsos mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Generasi pemilih muda termasuk adaptif dalam merespons perubahan tren dunia digital. Dibandingkan empat tahun lalu, terjadi kenaikan signifikan sumber informasi utama untuk makin tahu Indonesia para anak muda.

Temuan CSIS (2022), menunjukkan medsos berfungsi sebagai rujukan informasi utama generasi muda. Angkanya naik dari 39,5 persen (2018) menjadi 59 persen (2022).

"Anak-anak muda menyukai pemimpin yang bersih dan berintegritas, serta antikorupsi. Anak-anak muda juga mewakili generasi yang kritis dan apresiatif," tulis Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS Arya Fernandes di opininya di Koran Kompas, 11 Oktober 2022.

Sebagai penentu, mengapa kita harus nyoblos?

Karena setiap kebijakan yang nantinya para calon legislatif, calon presiden dan calon kepala daerah ini jalankan ketika terpilih, akan sangat berpengaruh ke kehidupan. Mungkin hari ini sekolahmu gratis, mungkin hari ini jalan di depan rumahmu sudah mulus, besok-besok belum tentu.

Akan tetapi, ini bukan sekadar perkara nyoblos.

Gunakan hak pilih kamu di hari pemilu. Ikuti terus program para kandidat pilihanmu ketika terpilih. Apa isu yang digaungkan ketika kampanye, benar-benar diperjuangkan?

Bergabunglah dengan komunitas untuk mengingatkan dan menekan mereka yang kini jadi wakil dan pemimpin karena suaramu, untuk terus berada di jalur yang benar. Istilahnya demokrasi deliberatif.

Alasannya sederhana, sebab hakikat demokrasi, adalah kekuasaan rakyat, bukan kepentingan pejabat. (*)




Top