Cerita Kota

Segitiga Coffee: Dari Pontianak untuk Kopi Indonesia

4 September 2025

439 views

Kontributor :
Adinda Y.R
@adindaydtmrae
Kontributor :
Adinda Y.R
@adindaydtmrae

CERITA KOTA | Di sudut Jalan Karya Baru, Pontianak, terdapat ruang yang membiasakan kita untuk meletakkan ponsel di meja, bukan karena aturan, tapi karena tempat itu membuat diam terasa lebih alami daripada sibuk menatap layar. Bahkan, situasi ini didukung karena tidak ada wifi, dan tidak ada musik di speaker yang melantunkan lagu-lagu ngetop per minggunya. 

Hanya suara dari perwakilan meja yang mewarnai latar suara di ruang itu.  Ada tawa, obrolan serius yang suaranya samar,  ada nyanyian dari beberapa orang memetik gitar mencari sumber kunci, ada juga yang diam sunyi menikmati buku.

Ruang itu tidak besar, bagi sebagian orang, cenderung sempit. Ketika masuk pun hal pertama yang bisa dirasakan adalah mencium aroma biji kopi dari meja bar. 

Karena ruangnya cukup kecil, setiap biji kopi digiling tidak menguap begitu saja. Aromanya ikut menyebar menyelimuti udara, melekat di dinding, sesekali ikut masuk dalam tarikan nafas. Tanpa disadari menjadi ingatan kuat untuk siapa saja yang sudah masuk di ruangan itu.

Ruangan ini bernama Segitiga Coffee. Bertahan sejak 2016, ruang ini telah menjadi tempat pemberhentian dan bersapa ria yang nyaman. Dengan interior bergaya grunge-industrial, suasana di Segitiga terasa nyaman untuk berlama-lama. 

Dari ruang sempit ini, justru siapapun bisa melihat secara detail cahaya lampu hangat dengan aksen kekuningan, meja-meja kayu yang disusun tanpa ambisi estetika berlebih. 

Ada pula tempat menyendiri untuk membungkam sunyi dengan rak-rak buku yang bervariasi dari buku Indonesia dan berbahasa luar. Minim akan poster motivasi atau sudut selfie. Hanya tempat duduk sederhana seolah mengisyaratkan: selamat datang, selamat menikmati kopi kami dan tak perlu jadi siapa-siapa di sini. 

Kenyamanan ini tidak hanya hadir dari desain tempatnya, tapi juga dari kualitas kopi yang disajikan. Seperti ikonik Segitiganya, proses meracik kopi  dilakukan dengan memperhatikan 3 hal: timing, ukuran gilingan (grain size), dan suhu penyeduhan, menghasilkan rasa kopi yang konsisten dan khas.

Menu andalan seperti Kopi Susu Segitiga dan Americano menjadi signature spesial yang banyak disuka. Terutama para pendekar kopi yang lagi mencari rasa kuat di setiap tegukannya. 

Untuk melengkapi pengalaman, rasa kopi autentik di sini bisa dipadukan dengan cookies manis yang dipajang di dekat kasir. Tidak hanya itu, menu non coffee juga bisa menjadi alternatif minuman yang membuat Kawan Pontinesia betah berlama-lama. 

Segitiga tidak hanya menawarkan suasana meneguk kopi di tempat, namun bisa juga melalui botolan, drip bag yang bisa dinikmati di rumah, kantor, sekolah, kampus, ditempat semua orang bisa berkumpul.

Segitiga tidak pernah melihat roasting hanya sebagai proses teknis untuk menghasilkan kopi terbaik, tetapi juga sebagai sebuah cerita yang patut dibagikan. Dengan merayakan prosesnya, Segitiga tidak hanya menunjukkan  kopi sebagai hasil akhir, melainkan cerita utuh yang melibatkan banyak tangan dan proses.

Seiring waktu, rasa kuat dari kopi Segitiga berkembang menjadi sesuatu yang lebih nyata. Segitiga mulai membuat merchandise seperti totebag serta membuka kelas basic brewing, melibatkan konsumen menjadi kontributor dalam pembuatan kopi bersama Segitiga. 

Perjalanan ini membawa Segitiga pada langkah besar berikutnya, yaitu menghadirkan ruang baru untuk semakin banyak orang. Cabang keduanya di Putri Daranante juga membagikan cerita di ruang yang cukup berani, antara merah, putih dan hitam pekat dari meja bar dan pajangan foto di dinding.

Pada akhirnya, Segitiga selalu ingin menjadi bagian dari budaya ngopi yang khas di Pontianak. Dengan rasa kopi yang autentik, baginya minuman ini adalah kebanggan sekaligus identitas untuk memperkenalkan kita melalui individu/aku/kamek masing-masing, dari Kopi Kamek adalah Kopi Indonesia. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!

Foto: Istimewa




Top