CERITA KOTA | Di sepanjang Jalan Merdeka, Pontianak, aroma asap tipis mulai menari-nari tepat setelah azan Magrib berkumandang. Di bawah pendar lampu jalan, bunyi thak-thak-thak yang ritmis bersahutan dari palu besi yang menghantam meja kayu. Itulah suara "selamat datang" dari #RamadandiPontianak.
Bagi masyarakat awam, ini mungkin sekadar cara unik mengolah cumi kering. Namun bagi warga Pontianak, Sotong Pangkong adalah sebuah ritual, nostalgia yang terbungkus dalam serat daging yang kenyal dan gurih.
Dari Awetan Nelayan Menjadi Ikon Kota
Secara etimologi, namanya sangat lugas: Sotong (cumi) dan Pangkong (dipukul dengan palu dalam bahasa Melayu Pontianak). Teknik ini lahir dari kearifan lokal untuk menyiasati tekstur sotong kering yang keras.
Dahulu, para nelayan di pesisir Kalimantan Barat mengawetkan hasil tangkapan dengan cara dijemur hingga garing. Agar bisa dinikmati sebagai kudapan, sotong kering ini dipanggang di atas bara arang, lalu dipukul berkali-kali hingga seratnya merekah dan menjadi empuk.
Tanpa bumbu tambahan di atas panggangan, rasa gurih alami muncul dari garam laut yang tertinggal saat proses penjemuran.
Nostalgia di Balik Serat yang Renggang
Bagi generasi yang tumbuh di Pontianak tahun 90-an, Sotong Pangkong adalah "hadiah" setelah seharian berpuasa atau pulang dari salat Tarawih. Menikmati kudapan ini bukan sekadar urusan perut, melainkan momen sosial. Tidak ada kemewahan formalitas; hanya ada kehangatan di tengah udara malam Pontianak yang lembap.
Sotong Pangkong adalah perekat sosial. Ia adalah alasan orang-orang untuk tetap terjaga setelah ibadah, memperpanjang durasi silaturahmi di bawah langit malam.
Evolusi Rasa: Antara Klasik dan Modernitas Urban
Seiring berkembangnya zaman, Sotong Pangkong tidak lagi hanya "cumi pukul". Ia telah beradaptasi dengan lidah masyarakat urban yang haus akan variasi.
Aspek
Klasik
Modern (Urban)
Pilihan Saus
Hanya sambal kacang atau sambal pedas encer.
Tersedia rasa ebi, asam manis, hingga tingkat kepedasan bertingkat.
Tekstur
Dipangkong manual (serat lebih kasar).
Sebagian menggunakan mesin penggiling untuk tekstur lebih halus.
Vibe
Duduk di pinggir jalan (street food).
Mulai masuk ke kafe modern dengan kemasan take-away.
Meskipun inovasi saus ebi kini sangat populer, satu hal yang tetap dijaga adalah proses pemanggangan menggunakan arang. Aroma smoky yang dihasilkan dari bara tidak bisa digantikan oleh kompor gas, dan itulah yang menjaga identitas kuliner ini tetap otentik.
Lebih dari Sekadar Kudapan
Di tengah gempuran tren kuliner modern yang datang dan pergi, Sotong Pangkong tetap bertahan sebagai penguasa malam Ramadan di Pontianak. Ia adalah bukti bagaimana sebuah tradisi pengolahan pangan sederhana mampu bertransformasi menjadi identitas budaya dan penggerak ekonomi warga lokal.
Menyantap sepotong sotong yang baru saja "dipangkong" adalah cara kita menghargai waktu, menghargai gigitan demi gigitan, dan merayakan kebersamaan yang mungkin sempat hilang di sela kesibukan tahunan.
"Sotong Pangkong bukan sekadar makanan; ia adalah bunyi yang memanggil pulang, dan rasa yang memastikan kita tidak lupa pada akar."
Jalan Merdeka menjadi salah satu kawasan populer saat ingin merasakan Sotong Pangkong. Barisan penjaga nyala bara arang berjejer rapi dengan keunikan masing-masing. Berikut beberapa rekomendasi tempat “Nyopang” yang bisa dikunjungi untuk merasakan pengalaman autentik:
1. Sotong Pangkong Kak Ipit
Bisa dibilang sebagai salah satu pelopor di kawasan Jalan Merdeka. Kak Ipit telah berjualan sejak tahun 1996, meneruskan usaha ibunya. Keunggulan di sini adalah pengalamannya bertahun-tahun dalam memilih kualitas sotong kering dan konsistensi rasa sambalnya. Tekstur pangkongan yang pas—tidak terlalu hancur namun tetap empuk saat dikunyah, menjadi keunikan tersendiri dari Sotong Pangkong Kak Ipit.
2. Sotong Pangkong Fariz
Spot ini menawarkan pengalaman interaktif yang unik bagi pengunjung. Di Lapak Fariz, pembeli diperbolehkan mencoba memangkong (memukul) sotong pesanan mereka sendiri. Ini menjadi daya tarik, terutama bagi wisatawan atau generasi muda yang ingin merasakan sensasi menjadi "pemangkong" sehari. Tak heran Sotong Pangkong Fariz dikenal kuat sebagai lapak interaksi langsung dan pilihan sambal kacang yang gurih kental.
3. Sotong Pangkong Wati
Sudah bertahan selama lebih dari 14 tahun, Lapak Wati adalah representasi dari kegigihan pedagang lokal. Ia tetap menggunakan teknik tradisional 100% tanpa bantuan mesin giling untuk menjaga serat sotong tetap alami. Sambal pedas manisnya yang memiliki aroma ebi yang kuat, sangat cocok bagi pencinta rasa yang bold.
4. Kawasan "Kampong Sotong Pangkong"
Jika Anda bingung memilih satu, datanglah ke area yang kini resmi dicanangkan sebagai destinasi wisata kuliner oleh Pemerintah Kota Pontianak ini. Suasana paling hidup terasa setelah waktu Tarawih hingga menjelang sahur. Vibe urban yang sangat kental dapat dirasakan; sembari duduk lesehan di trotoar berpadu menikmati keriuhan malam #RamadandiPontianak.
Tips Menikmati Sotong Pangkong:
Pilih Ukuran: Harga biasanya ditentukan oleh ukuran sotong (Kecil, Sedang, Besar). Semakin besar, biasanya seratnya semakin tebal dan puas untuk dikunyah.
Mix Sambal: Jangan ragu untuk meminta campuran sambal kacang dan sambal pedas encer untuk mendapatkan sensasi rasa yang lengkap.
Datang Lebih Awal: Meskipun buka hingga dini hari, spot-spot legendaris biasanya sudah mulai dipadati warga sejak pukul 20.00 WIB.
Ramadan kali ini, apakah #KawanPontinesia sudah menchecklist Sotong Pangkong dari daftar kuliner Pontianak yang sayang untuk dilewatkan? Kalau belum, kemana kita malam ini? (*)