Tantangan Merancang Kota di Garis Khatulistiwa
22 September 2025 |
287 views |
CERITA KOTA | Pantulan sinar sore menembus ke ruang tengah, di Tugu Khatulistiwa. Pendar cahaya menyebar mengiringi berlangsungnya kegiatan. Di bawahnya, Minggu (21/9/2025), orang-orang berkumpul, berbincang, dan berbagi pandangan tentang Pontianak yang dibentuk dalam sebuah kanal wicara. Setiap kota membentuk tata letak berdasarkan budayanya sendiri. Pontianak, yang berada tepat di garis khatulistiwa, memiliki fenomena unik yang disebut kulminasi matahari. Dua kali dalam setahun, matahari berada tepat di atas kepala, bayangan benda tegak lenyap seolah diserap oleh cahaya. Peristiwa astronomis ini menjadi penanda bahwa Pontianak berdiri di titik keseimbangan dunia, juga sebuah simbol yang mengandung makna bagi arah pembangunan kota. Fenomena inilah yang kemudian dipilih menjadi pintu masuk kanal wicara dari Komunitas Susur Galur bertajuk “Fenomena Kulminasi, Merancang Kota yang Kalcer, Adaptif, dan Berkelanjutan.” Forum ini mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan untuk merenungkan bagaimana Pontianak, dengan segala kekhasannya, bisa menata ruang kota yang berpijak pada budaya, sekaligus menjawab tantangan masa depan. Dalam diskusi, Kepala BAPPERIDA Pontianak, Sidig Handanu Widoyono, menekankan arah strategis pembangunan. “Ke depannya kita harus fokus ke arah perdagangan. Pontianak sudah ditetapkan sebagai kota perdagangan sekaligus kota jasa. Sektor pariwisata juga sangat diperlukan dalam upaya peningkatan PDRB, karena dari sisi konsumsi kontribusinya cukup besar. Kita ingin semakin banyak pengunjung yang datang ke Pontianak,” ujarnya. Ia juga menyoroti pengembangan kawasan pusaka, wisata Sungai Kapuas, dan waterfront sebagai wajah kota yang bisa merepresentasikan identitas lokal. Lebih jauh, forum ini membicarakan bagaimana kota bisa bertransformasi secara kalcer. Kalcer, istilah yang kini banyak digunakan, merujuk pada budaya keseharian yang melekat pada masyarakat: dari kebiasaan minum kopi di warung sederhana, interaksi di pasar tradisional, hingga keragaman kuliner yang menjadi daya tarik tersendiri. Kalcer inilah yang memberi warna pada Pontianak dan bisa menjadi fondasi untuk kota yang adaptif serta berkelanjutan. Kanal Wicara menghadirkan pandangan lintas bidang yang menekankan bahwa pembangunan kota tentang infrastruktur dan bagaimana ruang-ruang publik dapat memelihara identitas dan menghidupkan partisipasi masyarakat. Kanal wicara ini pada akhirnya menjadi ruang bersama untuk menegaskan kembali bahwa Pontianak dibangun dengan dengan ingatan, budaya, dan keseharian warganya. Pontianak dapat merancang dirinya sebagai kota yang tidak hanya modern dan fungsional, tetapi juga adaptif, berkelanjutan, dan setia pada jati dirinya. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|