Dari Pontianak, Teknologi AI Jadi Jawaban Layani Pelanggan
CERITA KOTA – Tidak semua percakapan antara pelanggan dan pelaku usaha berakhir menjadi transaksi. Ada pesan yang terlambat dibalas, pertanyaan yang terlewat, hingga calon pembeli yang berpindah karena tidak segera memperoleh jawaban. Persoalan tersebut terlihat sederhana, tetapi menjadi tantangan sehari-hari bagi banyak pelaku usaha. Ketika jumlah pelanggan bertambah, kebutuhan untuk memberikan pelayanan yang cepat dan konsisten pun semakin sulit dipenuhi hanya dengan cara-cara konvensional. Terlebih, kebiasaan pelanggan terus berubah. Mereka tidak hanya mempertimbangkan kualitas produk, tetapi juga mengharapkan pelayanan yang responsif, personal, dan tersedia ketika dibutuhkan. WhatsApp menjadi salah satu ruang utama tempat hubungan itu berlangsung. Berdasarkan survei Jakpat tahun 2026, tingkat penggunaan WhatsApp untuk berinteraksi dengan bisnis mencapai 80 persen di kalangan Milenial, 78 persen pada Generasi X, dan 72 persen pada Generasi Z. Artinya, bagi banyak pelaku usaha, WhatsApp tidak lagi sebatas aplikasi percakapan. Ia telah berkembang menjadi ruang untuk memperkenalkan produk, menjawab pertanyaan, menerima pesanan, hingga menjaga hubungan dengan pelanggan. Di tengah perubahan tersebut, teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mencari tempat dalam operasional bisnis. Teknologi ini digunakan untuk membantu menjawab pertanyaan pelanggan, mengelola reservasi, mencatat riwayat komunikasi, hingga mendukung proses penjualan. Dari Pontianak, upaya untuk menjawab persoalan tersebut mulai dilakukan melalui pengembangan Jalyn, sebuah AI Agent berbasis WhatsApp. Jalyn menjadi bagian dari PT Kreasi Putra Hotama, perusahaan lokal yang bergerak dalam bidang konsultasi teknologi informasi dan inovasi digital. Teknologi itu diperkenalkan melalui Workshop AI Agent by Jalyn pada 22 Juni 2026 di Hotel Maestro Pontianak. Kegiatan yang diikuti sekitar 50 pelaku usaha dan pemangku kepentingan tersebut menjadi ruang untuk membicarakan penerapan AI dalam kegiatan bisnis sehari-hari. 
Bukan semata membicarakan teknologi yang canggih, workshop itu membawa peserta pada persoalan yang dekat dengan keseharian mereka: bagaimana memastikan setiap pesan pelanggan tetap terjawab, bagaimana menyimpan riwayat interaksi, dan bagaimana memantau perjalanan calon pembeli hingga menjadi transaksi. Persoalan-persoalan itulah yang berusaha dijawab melalui Jalyn. Berbeda dengan chatbot konvensional yang umumnya bekerja berdasarkan jawaban yang telah ditentukan, AI Agent dirancang untuk memahami konteks percakapan melalui informasi bisnis yang tersimpan dalam knowledge base perusahaan. Dengan pemahaman tersebut, sistem dapat membantu memberikan respons yang lebih relevan berdasarkan produk, layanan, dan kebutuhan pelanggan. Namun, teknologi itu tetap bergantung pada kualitas informasi yang disiapkan oleh perusahaan. Semakin baik data yang diberikan, semakin tepat pula respons yang dapat dihasilkan. Pengembangan AI Agent juga tidak berhenti pada kecepatan membalas pesan. Salah satu persoalan lain yang kerap dihadapi pelaku usaha adalah data pelanggan yang tersebar di berbagai percakapan dan sulit ditelusuri kembali. Karena itu, Jalyn turut menghubungkan layanan AI dengan sistem Customer Relationship Management (CRM). Riwayat percakapan dan perjalanan pelanggan dapat tersimpan dalam satu sistem, sehingga pelaku usaha memiliki gambaran lebih utuh tentang hubungan yang dibangun dengan konsumennya. Melalui sistem tersebut, pemilik usaha juga dapat memantau aktivitas layanan pelanggan, kecepatan respons, serta perkembangan proses penjualan. Pencatatan pendapatan dan nota pembayaran dapat dihubungkan dengan perjalanan pelanggan hingga tahap transaksi. Kehadiran teknologi semacam ini menunjukkan bahwa Pontianak tidak hanya menjadi pasar atau pengguna perkembangan digital. Dari kota ini, mulai tumbuh upaya untuk merancang solusi teknologi berdasarkan persoalan yang dihadapi pelaku usaha di lapangan. Meski demikian, penerapan AI dalam bisnis bukan sekadar memasang sistem, lalu membiarkannya bekerja sendiri. Pelaku usaha tetap perlu menyiapkan informasi produk yang akurat, alur pelayanan yang jelas, serta tenaga manusia yang mampu mengambil alih ketika percakapan membutuhkan pertimbangan dan empati. AI juga tidak serta-merta menggantikan peran customer service. Teknologi dapat menangani pekerjaan yang berulang dan membantu menjaga konsistensi pelayanan, sedangkan manusia tetap diperlukan untuk memahami situasi yang lebih kompleks dan membangun hubungan yang lebih mendalam dengan pelanggan. “Kami percaya AI bukan untuk menggantikan customer service, tetapi membantu mereka bekerja lebih cepat, lebih konsisten, dan mampu memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik,” ujar CEO Burnian Collective sekaligus Direktur PT Kreasi Putra Hotama, Hajon Mahdy. Pada akhirnya, persoalan bisnis tidak selalu membutuhkan jawaban yang datang dari luar daerah. Inovasi dapat tumbuh dari kegelisahan terhadap masalah yang ditemui sehari-hari, lalu dikembangkan menjadi teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Dari Pontianak, Jalyn menjadi salah satu ikhtiar untuk mencari jawaban atas perubahan cara bisnis dan pelanggan saling berkomunikasi. Sebab, di tengah perkembangan teknologi, tantangannya bukan sekadar menjadi semakin otomatis, tetapi bagaimana tetap melayani dengan cepat tanpa kehilangan sisi personal dalam setiap percakapan. 
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|