Cerita Kota

SDN 14 Pontianak Sebagai Ruang Hidup Sejarah di Tengah Modernisasi

14 Juli 2026

61 views

Kontributor :
Universitas Tanjungpura
@univtanjungpura
Kontributor :
Universitas Tanjungpura
@univtanjungpura

CERITA KOTA | SDN 14 Pontianak yang terletak di Jalan Tamar, Kecamatan Pontianak Kota, Kalimantan Barat, adalah salah satu lembaga pendidikan bersejarah yang masih berdiri di tengah arus modernisasi Kota Pontianak. Sekolah yang diperkirakan telah berdiri sejak zaman Hindia Belanda pada tahun 1902 kini berfungsi tidak hanya sebagai tempat untuk belajar, tetapi juga sebagai saksi bisu perkembangan pendidikan di Pontianak dari masa penjajahan hingga era modern.

Bagi warga setempat dan para pengamat sejarah lokal, SDN 14 Pontianak merupakan tempat di mana sejarah hidup, yang terus menjaga jejak pendidikan dari masa lalu di tengah perubahan zaman.

Bangunan dan area sekolah ini, diyakini memiliki hubungan dengan sistem pendidikan kolonial Belanda di masa lalu. Dalam kenangan masyarakat lama Pontianak, kawasan sekolah ini sering dihubungkan dengan HIS atau Hollandsch-Inlandsche School, yang merupakan sekolah dasar pada masa Hindia Belanda yang ditujukan bagi anak-anak pribumi tertentu dengan pengantar bahasa Belanda.

Pontianak Heritage (2015) dalam artikel mengenai Gedung Sekolah HIS (Sekolah Dasar 14) menyatakan bahwa bangunan ini merupakan salah satu institusi pendidikan awal di Pontianak yang didirikan oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1902 dengan nama Hollandsch Inlandsche School (HIS).

Struktur sekolah ini terbuat dari kayu belian (ulin) dan memiliki arsitektur unik dengan bentuk panggung, atap bertingkat dua, serta jendela besar untuk sirkulasi udara, sehingga bangunan ini masih berdiri tegak hingga saat ini meski telah berumur lebih dari seratus tahun.

Jejak Pendidikan Kolonial Pontianak

Pada era penjajahan Belanda, sistem pendidikan terbagi berdasarkan kelas sosial dan kelompok etnis. Lembaga pendidikan seperti Europeesche Lagere School (ELS) ditujukan untuk orang Eropa, sementara Hollandsch Inlandsche School (HIS) ditujukan untuk segmen masyarakat pribumi tertentu, terutama anak-anak dari kalangan bangsawan, pegawai negeri, atau keluarga yang memiliki kedekatan dengan pemerintah kolonial.

Ahok dkk. (1980) dalam buku Sejarah Pendidikan Daerah Kalimantan Barat menyatakan bahwa pada masa pemerintahan Hindia Belanda, sistem pendidikan di Kalimantan Barat terklasifikasi menurut lapisan masyarakat dan kepentingan kolonial. Sekolah seperti Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dikhususkan untuk beberapa kelompok pribumi, terutama anak-anak dari keluarga bangsawan dan pegawai pemerintah.

Keberadaan Hollands-Inlandsche School (HIS) di Pontianak menunjukkan bahwa kota ini sejak lama telah berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan perdagangan penting di Kalimantan Barat.

Sebagai sebuah pelabuhan yang sedang tumbuhdi sisi Sungai Kapuas, Pontianak berfungsi sebagai titik temu berbagai pengaruhbudaya, termasuk sistempendidikan barat yang dibawa oleh Belanda. Untuk masyarakat setempat, SDN 14 tidak hanya berperan sebagai tempat untuk belajar membaca dan menulis, tetapi juga sebagai simbol dari sejarah panjang pendidikan di Pontianak. Banyak lulusan dari sekolah ini yang kemudian berperan sebagai tokoh masyarakat, pengajar, pegawai pemerintah, hingga pelaku bisnis yang memberikan kontribusi bagi kemajuan daerah.

Dari HIS Menjadi Sekolah Rakyat

Pasca Indonesia merdeka, banyak institusi pendidikan warisan Belanda mengalami perubahan dalam fungsi dan namanya. HIS yang dahulu dikenal dengan pendidikan kolonial kemudian beralih menjadi Sekolah Rakyat (SR), sebelum akhirnya berganti menjadi Sekolah Dasar Negeri (SDN).

Menurut Pontianak Heritage(2015) dalam artikelmengenai Gedung SekolahHIS (Sekolah Dasar 14), setelah kemerdekaan Republik Indonesia sekitar tahun 1950, masyarakat mulai mendapatkan akses yang lebih baik untuk mendapatkan pendidikan. Gedung HIS yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi segmen tertentu kini digunakan sebagai sekolah untuk masyarakat umum dan masih beroperasi sebagai SDN 14 Pontianak hingga saat ini.

Perubahan ini dilakukan melalui reformasi pada sistem pendidikan nasional setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan, dengan mengubah sekolah-sekolah yang berasal dari masa kolonial menjadi sekolah umum yang dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat tanpa menghiraukan status sosial atau latar belakang. Transformasi ini mencerminkan pergeseran peran pendidikan dari sistem kolonial yang terbatas menjadi pendidikan nasional yang lebih terbuka bagi masyarakat.

Modernisasi dan Tantangan Pelestarian 

Saat ini, pembaruankota menghadirkan tantanganbagi kelangsungan gedung dan ingatansejarah yang lama. Banyakbangunan berstruktur tua di Pontianaksecara bertahap lenyapakibat renovasi, proyek pembangunan baru, atau kurangnya perhatian untuk melestarikan warisan sejarah lokal. Hasanuddin (2014) dalam buku Pontianak Masa Kolonial mengungkapkan bahwa bangunan-bangunan warisan kolonial di Pontianak adalah elemen penting dari identitas sejarah kota yang perlu dipertahankan di tengah kemajuan dan pembangunan yang modern.

Kondisi yang sama juga menarik perhatian terhadap institusi pendidikan tua seperti SDN 14. Meskipun telah mengalami banyak perubahan fisik, masyarakat berharap agar identitas sejarah sekolah tetap dilestarikan. Karena,esensi dari sebuah sekolah tidak hanya terletakpada fisiknya, tetapi juga pada kisah dan perjalanan panjang yang mengikutinya. Bagi sebagian penduduk Pontianak Kota, sekolah ini menjadi pengingat bahwa pendidikan di Kalimantan Barat telah melalui berbagai periode: dari zaman kolonial, masa kemerdekaan, hingga era digital saat ini.

Ruang Hidup Sejarah 

SDN 14 Pontianak sampai hari ini masih berperan sebagai tempat pendidikan bagi para siswa. Suara anak-anak yang bermain di halaman, kegiatan para guru di kelas, serta upacara yang dilaksanakan setiap pagi merupakan bukti bahwa sejarahtidak selalu terletakdi museum atau situs bersejarah. Terkadang, sejarah juga dapat ditemui di ruang-ruang sederhana yang masih dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Saiful Bahri dkk. (2019) dalam artikel Pelestarian Cagar Budaya Hollandsch Inlandsche School (HIS) Pertama di Pontianak menjelaskan bahwa bangunan sekolah bersejarah tidak hanya berfungsi sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai media untuk membangun kesadaran sejarah dan identitas masyarakat terhadap perkembangan kota mereka sendiri.

Di tengah arus modernisasi yang pesat, keberadaan sekolah-sekolah lama seperti SDN 14 Pontianak memiliki peranan penting dalam mengingatkan generasi muda tentang latar belakang sejarah kota mereka. Di balik tampilan bangunan sekolah yang terlihat biasa, terdapat kisah panjang tentang pendidikan dan transformasi sosial masyarakat Pontianak dari waktu ke waktu.

Keberadaan SDN 14 Pontianak menunjukkan bahwa gedung sekolah yang telah ada cukup lama tidak hanya berperan sebagai lokasi untuk belajar, tetapi juga menyimpan kisah sejarah dan identitas kota.

Di tengah perkembangan modern yang cepat, menjaga eksistensi sekolah-sekolah bersejarah seperti SDN 14 sangatlah penting agar generasi yang akan datang tetap dapat memahami kemajuan pendidikan dan latar belakang sejarah Kota Pontianak. Sekolah ini menjadi bukti bahwa warisan sejarah tidak hanya ada di dalam museum atau buku pelajaran, melainkan juga hidup dalam komunitas yang masih menggunakannya hingga saat ini. (*)


*Penulis: Mawar dan Syeli Marselina, Universitas Tanjungpura

*Artikel ini merupakan luaran dari Pelatihan Penulisan Artikel Sejarah Populer; Kolaborasi bersama Dosen Pengampu Mata Kuliah, Majalah Riwajat, dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) untuk Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah (2023) FKIP dan Ilmu Komunikasi (2025) FISIP Universitas Tanjungpura


 Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top