Cerita Kota

Mengolah Ikan Gabus Menjadi Harapan Baru bagi Balita Sintang

11 Juli 2026

89 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

MENYUSURI BORNEO | Dari kolam-kolam tanah di Sintang, manfaat ikan gabus tak lagi hanya berakhir di meja makan. Ikan ini diolah menjadi tepung, kemudian diproses menjadi biskuit bergizi yang membawa harapan baru dalam upaya mencegah stunting pada anak-anak di Sintang.

Ikan gabus selama ini dikenal sebagai salah satu hasil perikanan yang mudah dijumpai di Sintang. Selain ditangkap dari perairan, ikan ini juga banyak dibudidayakan masyarakat di kolam-kolam tanah. Kandungan proteinnya yang tinggi menjadikannya tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki potensi sebagai sumber pangan bergizi.

Potensi itulah yang kemudian melahirkan Bischo, biskuit bergizi yang dikembangkan oleh Laboratorium Inovasi Bestari bersama PT Semesta Sintang Lestari.

Produk ini memanfaatkan ekstrak protein hewani berupa albumin dari ikan gabus maupun ikan toman yang dipadukan dengan karbohidrat dan lemak, sehingga menjadi makanan tambahan yang ditujukan untuk mendukung upaya pencegahan stunting pada balita.

"Masalah stunting menjadi perhatian kami. Sintang memiliki sumber daya ikan gabus yang melimpah, sehingga kami mencoba mengolahnya menjadi produk yang lebih mudah dikonsumsi anak-anak," ujar Elfira Wahdalia, Head of Finance PT Semesta Sintang Lestari.

Sebelum menjadi biskuit, ikan gabus dipilih dari hasil budidaya masyarakat, kemudian melalui proses pengolahan yang memperhatikan kualitas bahan baku. Salah satunya dengan menerapkan teknik ikejime, yang membantu menjaga mutu ikan sebelum diproses lebih lanjut menjadi ekstrak protein. Ekstrak tersebut kemudian diolah menjadi tepung sebagai bahan utama pembuatan Bischo.

Tak hanya memperhatikan kandungan gizinya, Bischo juga dirancang agar praktis dalam pendistribusian. Biskuit ini hadir dalam dua varian rasa, original dan cokelat, serta memiliki masa simpan hingga sembilan bulan tanpa tambahan bahan pengawet. Dengan ketahanan tersebut, Bischo dapat menjangkau lebih banyak posyandu dan wilayah sasaran tanpa mengurangi kualitas produk. 

Berbeda dengan makanan tambahan pada umumnya, Bischo diproduksi tanpa tambahan bahan pengawet. Meski demikian, produk ini memiliki masa simpan hingga sekitar sembilan bulan dengan pengemasan yang baik. Biskuit ini juga diformulasikan khusus untuk balita berusia di atas satu tahun sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan gizi.

Tahun ini, Bischo mulai didistribusikan melalui posyandu di Kabupaten Sintang. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Sintang juga telah menyalurkan ribuan bungkus biskuit tersebut ke sejumlah puskesmas dan wilayah lokus stunting sebagai bagian dari intervensi gizi. Beberapa desa, seperti Baning Panjang dan Desa Ana, menjadi wilayah yang rutin menerima produk ini.

Bagi masyarakat Sintang, ikan gabus mungkin sudah lama menjadi hidangan sehari-hari. Namun kini, ikan yang sama hadir dalam bentuk yang berbeda. Dari kolam-kolam budidaya, melalui proses pengolahan menjadi tepung, hingga akhirnya menjadi biskuit, ikan gabus membawa harapan baru: menjadi bagian dari ikhtiar daerah dalam menciptakan generasi yang tumbuh lebih sehat dan bebas dari stunting. (*)


*Artikel ini ditulis sebagai bagian dari kolaborasi Pontinesia dalam Co-Reporting Katadata Green: Menggali Potensi Bioekonomi Kabupaten Sintang untuk Indonesia


Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top