Cerita Kota

Choipan Sakok, Jejak Rasa Lama yang Tetap Hidup di Singkawang

15 Februari 2026

106 views

Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id
Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id

CERITA KOTA | Di sebuah sudut Jalan Sedau, Singkawang, Kalimantan Barat, aktivitas memasak berlangsung tanpa banyak seremoni. Tutup kukusan terangkat, lalu kembali ditutup, berulang dalam ritme yang nyaris tak terputus. Dari sanalah uap hangat keluar, membawa wangi adonan beras, bawang putih, dan ebi yang segera memenuhi udara sekitar.

Tak ada papan besar atau tampilan mencolok. Kedai itu sederhana, namun di situlah choipan Sakok dibuat dan disajikan seperti sejak dulu—apa adanya, tanpa perubahan berarti.

Bagi masyarakat setempat, makanan ini bukan sekadar kudapan. Choipan sudah menjadi bagian dari keseharian: disantap saat pagi, dicari sebagai pengganjal lapar di siang hari, atau dibawa pulang untuk keluarga. Bahkan banyak orang dari luar daerah sengaja datang kembali hanya untuk merasakan cita rasa yang sama.

Dora Selvia (31), warga Pontianak, mengaku hampir selalu menyempatkan diri mampir setiap kali berkunjung ke kota tersebut.

“Rasanya sudah seperti agenda wajib. Kalau belum makan choipan Sakok, rasanya kunjungan ke sini belum lengkap,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).

Lembut di Kulit, Kaya di Isi

Choipan dibuat dari campuran tepung beras dan tapioka yang menghasilkan tekstur kenyal namun tetap lembut. Setelah matang dikukus, permukaannya terasa halus dan ringan, tidak lengket di mulut.

Isiannya bervariasi. Bengkuang memberikan sensasi manis alami, kucai menghadirkan aroma segar, sementara talas menambah rasa gurih yang lembut. Taburan bawang putih goreng dan ebi menjadi sentuhan akhir sebelum sambal bawang disajikan sebagai pelengkap.

Menurut Dora, keseimbangan rasa inilah yang membuat choipan terasa sederhana, tetapi tidak membosankan.

“Makannya ringan, tidak bikin enek. Tapi biasanya justru nambah terus,” katanya sambil tersenyum.

Dikerjakan dengan Cara Lama

Di tengah perkembangan kuliner modern, proses pembuatan choipan di tempat ini masih mempertahankan metode tradisional. Adonan diuleni manual, kulit dibentuk satu per satu, lalu diisi dengan takaran yang dijaga konsisten.

Setiap tahap membutuhkan ketelitian. Kulit tidak boleh terlalu tebal, lipatan harus rapi, dan waktu pengukusan mesti pas agar menghasilkan tekstur yang tepat—tidak keras, juga tidak lembek.

Kesederhanaan proses itulah yang justru menjadi kunci kebertahanan makanan ini di tengah maraknya hidangan cepat saji.

Mengikat Kenangan Banyak Orang

Bagi sebagian orang, choipan bukan hanya soal rasa, tetapi juga kenangan. Aromanya sering kali mengingatkan pada rumah, pada suasana kota lama, atau perjalanan masa kecil.

Dora mengaku kerap mengajak teman-temannya dari luar Kalimantan Barat untuk mencicipi makanan tersebut.

“Banyak yang awalnya ragu karena tampilannya sederhana. Tapi setelah coba, mereka langsung mengerti kenapa makanan ini dicari,” tuturnya.

Bertahan karena Konsisten

Choipan Sakok tidak pernah berusaha tampil mengikuti tren. Tidak ada inovasi berlebihan atau kemasan modern. Yang dijaga justru rasa yang sama dari waktu ke waktu.

Para penjual mempertahankan resep, pelanggan terus datang, dan kota ini memberi ruang bagi tradisi kuliner untuk tetap hidup.

Di tengah perubahan zaman, choipan tetap hadir dengan cara yang sederhana—hangat, harum, dan setia pada cita rasa lamanya. (*)




Top