BUNGLON : Karya Sastra Terselubung untuk Pontianak
2 April 2016
Pernah merasakan jatuh cinta? Kepada apapun, kepada siapapun. Dan cinta yang sebenar-benar cinta memang sudah semestinya tak mengenal alasan apapun. Cinta. Ya
sudah, begitu saja adanya. Seperti halnya yang terjadi pada gadis 22 tahun asal Solo ini. Ia tak pernah bisa menjawab pertanyaan orang-orang Pontianak bahkan pertanyaan dari Walikota Pontianak, Bapak Sutarmidji sekalipun. Pertanyaan "Kenapa bisa cinta Pontianak?"
Aminah Aini yang akrab disapa Amai, murni berdarah Jawa, lahir dan besar disana. Lihat kan? Ia tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Pontianak. Semua itu
bermula dari misi labilnya selepas SMA, "Pencarian Emak Baru". Ia jengah dengan kegarangan dan kecerewetan Emaknya. Ia benar-benar ingin mencari pengganti Emak
Kandungnya. Tak peduli apapun rintangannya, termasuk soal berkuliah. Ia rela tak berkuliah hanya karena ingin fokus dan benar-benar total mencari Emak Barunya yang
berhati Peri.

Sejak 2011, ia memulai petualangannya. Kota-kota besar dari beberapa provinsi di Indonesia sudah berhasil ia jajaki. Namun sayang, nihil yang ia dapati. Belum
ada Emak Baru berhati Peri yang mau akui ia sebagai anak. Hingga September 2014, ia mencoba keberuntungannya dengan mengubek-ubek tiket pesawat murah di Internet. Dan
ia dapati Pontianak, Kalimantan Barat.
Kantor Gubernur yang erat dengan nuansa Dayak, Rumah Melayu dengan warna khas kuning seakan langsung berbicara dengan Amai penuh kesederhanaan. Belum lagi gagahnya replika Burung Enggang di Rumah Radakng. Semuanya mengetuk-etuk alam bawah sadarnya, telah menghipnotisnya, dan terakhir, ia jatuh ke dalam cinta pandangan pertama.
Menurut pengakuan Amai, belum pernah sekalipun ia dapati kota semagis ini. Kota yang ketika ia melihatnya, ia merasa terbius, dan ia sendiri tak tahu kenapa bisa terbius. Pada akhirnya, ia berucap, "Kalian tidak akan pernah mengerti kemagisan yang aku alami, sebelum kalian lihat sendiri kota ini. Kalian hanya butuh lihat,
lalu rasa." Atas kecintaannya pada Pontianak, Burung Enggang, Rumah Melayu, dan segala hal tentang Borneo, ia mendedikasikannya dalam bentuk karya sastra, sebuah novel
tepatnya.

Bunglon : Pencarian Emak Baru. Terdapat Burung Enggang yang ukuran gambarnya ialah paling besar dibanding landmark kota lainnya. Menurut Amai, itulah misi
terselubungnya. Berkarya dengan menulis sekaligus berterimakasih untuk Pontianak. Karena di tempat inilah ia disadarkan bahwa memang tak ada Emak lain selain Emak
Monsternya yang mau mengakui ia sebagai anak.
Amai telah merilis Novel Bunglon ini dalam soft-launcing pada event Pontianak Local Product Market, PROLOC yang digelar beberapa waktu lalu di Pontianak Convention Center. Berbagai feedback positif dari berbagai kalangan masyarakat mewarnai perjalanan rilis Novel Bunglon ini. Buat kamu yang tertarik bagaimana kisah dan hikmah yang tertuang dalam Bunglon, bisa mendapatkan Novel ini, di Coffeecino Cafe (Jalan Sui. Raya Dalam, Pontianak), atau menghubungi Lala (083151200035). Amai, sang Penulis Bunglon dapat dihubungi via Instagram @akubunglon.
|
|